Memang benar jika bidang teknik sipil berkaitan perihal merancang dan membangun suatu bangunan. Sebuah kesalah pahaman jika bidang teknik sipil disamakan dengan bidang arsitektur. Terlebih lagi dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Sekarang kuliah di mana, Dik?“
“Kuliah di *** (nama universitas), Om.“
“Ambil jurusan apa?“
“Teknik sipil, Om.“
“Ooo, nanti setelah lulus mau jadi PNS, ya?“
Atau
“Kamu anak sipil, kan?“
“Iya, kenapa?“
“Bisa minta tolong nggak buatin gambar rancangan rumah. Pakai desain ala rumah Eropa. Terus di bagian jendelanya pakai banyak lengkungan. Lalu pintunya besar-besar. O iya, jangan lupa nanti untuk lantainya pakai marmer dari timur tengah gitu. Dan seterusnya.“
Bagi kebanyakan orang, terjebak dalam percakapan di atas (entah satu atau dua) seringlah terjadi. Apakah itu mendengar dari pengalaman orang maupun terjadi di depan mata kepala sendiri.
Untuk orang awam, istilah sipil berarti berkenaan dengan rakyat, masyarakat, dan seragamnya. Bagian terpentingnya tidak termasuk anggota TNI. Namun, jika dibawa ke dalam ilmu teknik sipil sangat berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil.
Dalam ilmu teknik sipil, mencakup ilmu hitung, ilmu gaya, dan ilmu alam. Secara, ketiga hal itu sangat bersebrangan, namun memiliki kaitan erat tentang teknik sipil itu sendiri. (Untuk lebih jelasnya klik di sini)
Berbanding terbalik dengan Pegawai Negeri Sipil yang lebih menekankan kepada bidang surat menyurat. Bekerja di bawah naungan pemerintahan. Itu pun untuk masuk ke sana mesti melewati tes. Belum lagi banyaknya pesaing menyulitkan untuk lolos.
Meskipun pada kenyataannya Pegawai Negeri Sipil ada juga dari orang-orang teknik sipil. Tapi, tujuan utama dari teknik sipil bukanlah menjadi pegawai pemerintahan. Menjalankan roda pembangunan negara untuk mencapai kemakmuran.
Lain hal jika teknik sipil disamakan dengan arsitektur. Dalam teknik sipil, hal-hal yang mengenai desain tidak didalami secara maksimal seperti di arsitektur. Perlu digaris bawahi jika kata 'tidak' bukan berarti tidak mempelajarinya sama sekali. Karena dalam teknik sipil, perihal struktur bangunan sangatlah diperhatikan dibandingkan desain.
Hal demikian sedikit berlawanan dengan arsitektur. Dimana, dalam arsitektur sangat menonjolkan perihal desain. Bahkan mampu membedakan gaya bangunan victoria dengan vintage (jika dilihat sekilas, terlihat sama) secara terperinci. Namun, dalam struktur sedikit abai. Sama halnya dalam taknik sipil, dalam arsitektur juga mempelajari mengenai struktur bangunan, tapi tidak dipelajari secara mendalam.
Dalam pelaksanaannya, teknik sipil dengan arsitektur bekerja sama dalam merancang bangunan. Memperhatikan struktur dan desainnya bersamaan. Kadang kala, hal ini hanya dilakukan oleh satu orang yang paham akan struktur dan desain. Dengan catatan sudah berpengalaman.
Antara teknik sipil dengan arsitektur terkesan mudah. Namun, dalam pengaplikasiannya sedikit bertentangan.
Miasalnya saat merancang suatu bangunan. Bagi orang teknik sipil, segala aspek sangat berpengaruh kepada bangunan tersebut. Bagaimana kondisi tanahnya, keras, lunak, atau lembek? Jika bangunan yang diinginkan memiliki lantai lebih 20, apakah kondisi wilayah seperti ini cocok? Belum lagi memperhatikan lingkungan sekitar, ramai atau sepi? Bagian terpentingnya adalah bangunan ini ditujukan kepada siapa dan untuk apa?
Lain hal dalam arsitektur. Apa yang terjadi di atas tidak menjadi perhatiannya (kecuali tentang kepada siapa dan untuk apa bangunan tersebut). Karena, dalam mendesain bangunan untuk perkantoran dengan rumah sakit itu berbeda sekali. Belum lagi, dalam hal desain menjadi tolak ukur akan berapa banyak orang yang tertarik untuk datang ke bangunan tersebut.
Selain daripada itu, dalam teknik sipil menuntut orang-orang di sana paham akan perihal hitung-hitungan, serta logika yang masuk akal berdasarkan data yang ada. Sedangkan, arsitektur lebih menonjolkan akan imajinasi tentang bagaimana desain yang dirancang sesuai dengan tujuan bangunan tersebut didirikan.
Pada akhirnya, antara teknik sipil dan arsitektur, walaupun sama-sama membahas perihal bangunan, namun cakupannya berbeda. Terlebih lagi antara teknik sipil dengan Pegawai Negeri Sipil. Boleh dibilang tidak ada hubungannya sama sekali.
Meskipun, hal tersebut sudah bisa diperkirakan memiliki makna yang berbeda (antara teknik sipil dan PNS). Masih ada saja yang terjebak perihal hal tersebut.
“Teknik sipil ini ngapain, sih? Tiap hari ngitung mulu.“
“Merancang dan membangun sebuah bangunan.“
“Lah, aku kira nanti akan jadi PNS. Berarti selama ini aku salah jurusan?“
Telan paksa paku beton. Kalau begini tersesatnya sungguh terlalu, Kawan.
Halaman
▼
Halaman
▼
Saturday, 27 April 2019
Friday, 26 April 2019
PERIHAL KETAHANAN MAUPUN KEKUATAN MENJADI FAKTOR UTAMA DALAM MERANCANG BANGUNAN
Sebenarnya daya kekuatan suatu bangunan sangatlah diperhatikan. Sayangnya, sekarang ini hal itu menjadi terabaikan karena lebih berfokus kepada desain.
Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia sangat konsumtif mengenai pembangunan untuk infrastruktur negara. Guna memakmurkan rakyat sekaligus menaikkan ekonomi masyarakat. Banyaknya bangunan yang berdiri berusaha mengikuti perkembangan desain saat ini. Bangunan bergaya minimalis masih mendominasi untuk saat ini.
Apakah bangunan tersebut mempunyai kekuatan dan ketahanan yang dapat berdiri hingga lama layaknya bangunan zaman penjajahan?
Kembali lagi darimana sumber bangunanya. Dalam artian sempitnya, materi yang digunakan berkualitas tinggi sesuai dengan anjuran Standar Nasional Indonesia (SNI). Misalnya satu kubik batu kali untuk pondasi sangat berperan penting apakah pondasi itu dapat bertahan lama atau tidak.
SNI telah dirancang sedemikian rupa supaya apapun bangunan yang hendak didirikan mampu bertahan lama, meskipun dengan material yang tak banyak. Kendati demikian, kecurangan saat pengerjaan lapangan sering kali terjadi. Terlebih kepada proyek pembangunan dalam skala besar. Penyelewangan sangat mudah terjadi.
Sebagai contoh adalah kasus Proyek Hambalang yang sayangnya mesti berhenti di tengah jalan. Perihal pendanaan yang membengkak dari 125 miliyar menjadi 2,5 triliun menjadi hal yang patut dipertanyakan. Pada tahun 2003 hingga 2006, dana sebanyak itu sudah termasuk besar untuk membangun gedung olahraga yang bagus. Sayangnya, orang di balik itu semua mesti ditangkap perihal penyelewangan dana. Meskipun hanya dana, itu sangat berpengaruh kepada kualitas bangunan yang dihasilkan.
Contoh lainnya jembatan penghubung sungai di Kutai yang ambruk setelah beberapa tahun berdiri. Bisa dkbilang bangunan zaman penjajahan masih kokoh dibandingkan jembatan itu. Setelah diusut terjadi penyelewangan dalam hal material. Seharusnya menggunakan bahan yang berkualitas bagus diganti dengan bahan-bahan untuk membangun rumah. Meskipun sama-sama material bangunan, tentunya dalam pelaksanaan di lapangan sangat berbeda antara material untuk jembatan dan rumah. Akibatnya, jembatan yang dibangun tidak mempunyai kekuatan dan ketahanan yang cukup atas bencana alam. Kasus ditutup dengan ditangkapnya orang-orang yang bertanggung jawab dalam proyek jembatan. Selain itu, korban jiwa akibat peristiwa ini tidaklah sedikit. Tentu saja itu membuat banyak orang menuntut karena infrastruktur tidak bertahan lama.
Kerugian semakin membengkak ketika proyek-proyek berskala besar (seperti contoh di atas) dipermainkan oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadi. Sehingga berakibat kepada kemakmuran negara Indonesia yang berjalan sangat lambat. Hanya berfokus kepada pembangunan infrastruktur tanpa peduli ketahanan bangunan karena dana untuk membeli material diambil.
Dalam pembangunan skala kecil, penyelewangan ini seakan tidak ada habisnya. Misalnya dalam pembangunan rumah dua tingkat, galian pondasi yang direncanakan adalah dua meter (mengingat kondisi tanah bagus). Namun, fakta yang ada di lapangan berbeda. Para pekerja hanya membuat galian pondasi sedalam satu meter. Hal itu sama saja digunakan untuk bangunan satu tingkat. Pada akhirnya jika terjadi bencana rumah itu tidak akan tahan lama, karena sejak dari awal pembangunannya tidak mematuhi aturan.
Belum lagi akhir-akhir ini infrastruktur yang dibangun hanya berfokus kepada hal desain. Apapun hasilnya mesti terlihat modern. Tidak peduli apakah bangunan itu tahan lama atau tidak. Apabila hal ini diperburuk dengan penyelewangan dana, berakhir sudah bangunan itu. Hal ini diperparah jika bangunan tadi di periksa oleh Dinas Pekerjaan Umum. Jika terbukti gambar yang direncanakan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, akan bermasalah kepada pelaksana pembangunan tersebut
Berbicara mengenai desain, dalam hal ini struktur bangunan tidaklah diperhatikan. Karena hanya berfokus bagaimana membuat bangunan tersebut terlihat bagus. Meskipun demikian antara desain dan struktur bangunan mesti diselaraskan, supaya terwujud bangunan yang mempunyai kekuatan dan ketahanan serta desain menawan.
Sumber gambar dari sini (sebenarnya dari screenshot anime Fate/Zero)
Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia sangat konsumtif mengenai pembangunan untuk infrastruktur negara. Guna memakmurkan rakyat sekaligus menaikkan ekonomi masyarakat. Banyaknya bangunan yang berdiri berusaha mengikuti perkembangan desain saat ini. Bangunan bergaya minimalis masih mendominasi untuk saat ini.
Apakah bangunan tersebut mempunyai kekuatan dan ketahanan yang dapat berdiri hingga lama layaknya bangunan zaman penjajahan?
Kembali lagi darimana sumber bangunanya. Dalam artian sempitnya, materi yang digunakan berkualitas tinggi sesuai dengan anjuran Standar Nasional Indonesia (SNI). Misalnya satu kubik batu kali untuk pondasi sangat berperan penting apakah pondasi itu dapat bertahan lama atau tidak.
SNI telah dirancang sedemikian rupa supaya apapun bangunan yang hendak didirikan mampu bertahan lama, meskipun dengan material yang tak banyak. Kendati demikian, kecurangan saat pengerjaan lapangan sering kali terjadi. Terlebih kepada proyek pembangunan dalam skala besar. Penyelewangan sangat mudah terjadi.
Sebagai contoh adalah kasus Proyek Hambalang yang sayangnya mesti berhenti di tengah jalan. Perihal pendanaan yang membengkak dari 125 miliyar menjadi 2,5 triliun menjadi hal yang patut dipertanyakan. Pada tahun 2003 hingga 2006, dana sebanyak itu sudah termasuk besar untuk membangun gedung olahraga yang bagus. Sayangnya, orang di balik itu semua mesti ditangkap perihal penyelewangan dana. Meskipun hanya dana, itu sangat berpengaruh kepada kualitas bangunan yang dihasilkan.
Contoh lainnya jembatan penghubung sungai di Kutai yang ambruk setelah beberapa tahun berdiri. Bisa dkbilang bangunan zaman penjajahan masih kokoh dibandingkan jembatan itu. Setelah diusut terjadi penyelewangan dalam hal material. Seharusnya menggunakan bahan yang berkualitas bagus diganti dengan bahan-bahan untuk membangun rumah. Meskipun sama-sama material bangunan, tentunya dalam pelaksanaan di lapangan sangat berbeda antara material untuk jembatan dan rumah. Akibatnya, jembatan yang dibangun tidak mempunyai kekuatan dan ketahanan yang cukup atas bencana alam. Kasus ditutup dengan ditangkapnya orang-orang yang bertanggung jawab dalam proyek jembatan. Selain itu, korban jiwa akibat peristiwa ini tidaklah sedikit. Tentu saja itu membuat banyak orang menuntut karena infrastruktur tidak bertahan lama.
Kerugian semakin membengkak ketika proyek-proyek berskala besar (seperti contoh di atas) dipermainkan oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadi. Sehingga berakibat kepada kemakmuran negara Indonesia yang berjalan sangat lambat. Hanya berfokus kepada pembangunan infrastruktur tanpa peduli ketahanan bangunan karena dana untuk membeli material diambil.
Dalam pembangunan skala kecil, penyelewangan ini seakan tidak ada habisnya. Misalnya dalam pembangunan rumah dua tingkat, galian pondasi yang direncanakan adalah dua meter (mengingat kondisi tanah bagus). Namun, fakta yang ada di lapangan berbeda. Para pekerja hanya membuat galian pondasi sedalam satu meter. Hal itu sama saja digunakan untuk bangunan satu tingkat. Pada akhirnya jika terjadi bencana rumah itu tidak akan tahan lama, karena sejak dari awal pembangunannya tidak mematuhi aturan.
Belum lagi akhir-akhir ini infrastruktur yang dibangun hanya berfokus kepada hal desain. Apapun hasilnya mesti terlihat modern. Tidak peduli apakah bangunan itu tahan lama atau tidak. Apabila hal ini diperburuk dengan penyelewangan dana, berakhir sudah bangunan itu. Hal ini diperparah jika bangunan tadi di periksa oleh Dinas Pekerjaan Umum. Jika terbukti gambar yang direncanakan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, akan bermasalah kepada pelaksana pembangunan tersebut
Berbicara mengenai desain, dalam hal ini struktur bangunan tidaklah diperhatikan. Karena hanya berfokus bagaimana membuat bangunan tersebut terlihat bagus. Meskipun demikian antara desain dan struktur bangunan mesti diselaraskan, supaya terwujud bangunan yang mempunyai kekuatan dan ketahanan serta desain menawan.
Wednesday, 24 April 2019
DESAIN RUMAH TERBAIK ADALAH KETIKA SESUAI KEINGINAN DI HATI DENGAN YANG DIPIKIRKAN
Desain rumah akan selalu mengikuti tren yang ada, namun ada beberapa desain rumah yang senantiasa awet. Hal tersebut kembali kepada masing-masing pemilik hunian itu sendiri.
Keindahan adalah salah satu faktor untuk menunjukkan eksintensi terhadap sebuah bangunan. Sering kali, hal ini sangat menjadi pusat perhatian, lalu mengesampingkan kekuatan dari bangunan itu sendiri. Ini bisa menjadi masalah yang besar. Mana tahu bangunan yang bagus itu tidak memiliki daya tahan yang baik.
Dalam desain rumah itu sendiri, ada beberapa aspek yang diperhatikan. Mulai dari kultur budaya, keinginan (selera) pemilik, hingga trend desain rumah yang sedang berkembang. Tidak menutup kemungkinan jika desain minimalis yang tengah marak saat ini akan mampu bertahan dengan lama. Pasalnya, desain minimalis mengusung desain yang sederhana, simple, namun tetap elegan jika diaplikasikan kepada bangunan. Terlebih lagi mampu menghemat pengeluaran dana.
Desain minimalis sendiri awalnya berkembang di luar negara Indonesia. Baru beberapa tahun belakangan, semakin banyak minat masyarakat untuk menggunakan desain ini. Tapi, tak ayal jika ada beberapa desain rumah lain yang masih bertahan hingga sekarang.
Contohnya saja desain rumah vintage. Meskipun sekarang ini sangat jarang menemukan bangunan baru dengan gaya seperti ini, namun desain vintage masih bertahan. Pasalnya, terdapat ornament-ornament yang rumit tapi unik untuk dijadikan hiasan bangunan. Selain itu, perletakkan jendela yang sedikit menyempit namun elegan menjadi salah satu ciri khas dari desain rumah ini.
Meskipun demikian, desain rumah yang mengusung gaya vintage lengang peminat. Pembuatan ornament yang menyulitkan membuat orang-orang berpikir dua kali. Belum lagi perubahan gaya desain pada rumah untuk diganti minimalis menjadi vintage sangat berlawanan. Jangan lupakan perihal dana yang tidak sedikit jika menggunakan desain vintage ini.
Lain hal dari yang di atas, ada beberapa bangunan yang hanya fokus kepada desain dibandingkan bangunan itu sendiri. Hal ini mengakibatkan beberapa aspek (seperti kekuatan, ketahanan) menjadi abai. Sehingga bangunan yang bagus itu tidak bertahan lama jika ada bencana alam yang datang.
Meskipun mendesain bangunan terkesan mudah, namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:
1. Kenyamanan
Desain suatu bangunan sangat berpengaruh kepada kenyaman psikologi seseorang. Misalnya saja saat seseorang berkunjung ke bangunan bergaya vintage, auta keeropaannya begitu kental. Terlebih gaya vintage mengusung kemewahan. Hal ini berbanding terbalik jika berkunjung ke bangunan minmalis. Kesan lapang lebih kental terasa.
2. Corak budaya
Sebuah bangunan akan sangat berpengaruh untuk identitas dari tempat itu sendiri. Misalnya saja saat semua bangunan di suatu wilayah masih mempertahankan rumah dengan gaya panggung. Bahkan tidak ada rumah yang terbuat dari batu bata. Tidak menutup kemungkinan jika tempat tersebut akan berganti nama mengikuti nama bangunan tersebut.
3. Keinginan pemilik bangunan
Hal ini sangatlah begitu krusial, selain menimbang perihal dana. Pasalnya, selera setiap orang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tak ayal, dalam mendesain rumah akan ada satu desain bangunan yang terlihat berbeda, namun sesuai dengan keinginan sang pemilik. Misalnya saja seperti sekarang ini desain bangunan dengan gaya minimalis begitu menjamur, tapi ada beberapa orang memutuskan membangun rumah dengan desain yang berbeda sesuai keinginannya.
Dalam perkembangan desain bangunan, kepopuleran dari salah satu gaya bangunan sangat berperan penting. Namun, hal ini tidak bisa menjadi faktor yang begitu kuat. Pasalnya, untuk sebuah desain bangunan itu dikembalikan kepada individu masing-masing.
Terkecuali pada bangunan yang ada di kompleks perumahan. Di sana, sudah diatur sedemikian rupa agar rumah asli terlihat sama dengan yang lainnya. Mulai dari penempatan ruang, interior (bagian dalam rumah), hingga eksterior (bagian luar rumah). Hal ini sangat berpengaruh kepada anggaran bisnis untuk kompleks perumahan. Meskipun demikian, ada beberapa orang yang berusaha memodifikasi sesuai keinginannya sendiri.
Semua itu dikembalikan kepada keinginan masing-masing. Mewujudkan rumah impian dengan desain bangunan yang sesuai keinginan.
Sumber gambar dari sini
Keindahan adalah salah satu faktor untuk menunjukkan eksintensi terhadap sebuah bangunan. Sering kali, hal ini sangat menjadi pusat perhatian, lalu mengesampingkan kekuatan dari bangunan itu sendiri. Ini bisa menjadi masalah yang besar. Mana tahu bangunan yang bagus itu tidak memiliki daya tahan yang baik.
Dalam desain rumah itu sendiri, ada beberapa aspek yang diperhatikan. Mulai dari kultur budaya, keinginan (selera) pemilik, hingga trend desain rumah yang sedang berkembang. Tidak menutup kemungkinan jika desain minimalis yang tengah marak saat ini akan mampu bertahan dengan lama. Pasalnya, desain minimalis mengusung desain yang sederhana, simple, namun tetap elegan jika diaplikasikan kepada bangunan. Terlebih lagi mampu menghemat pengeluaran dana.
Desain minimalis sendiri awalnya berkembang di luar negara Indonesia. Baru beberapa tahun belakangan, semakin banyak minat masyarakat untuk menggunakan desain ini. Tapi, tak ayal jika ada beberapa desain rumah lain yang masih bertahan hingga sekarang.
Contohnya saja desain rumah vintage. Meskipun sekarang ini sangat jarang menemukan bangunan baru dengan gaya seperti ini, namun desain vintage masih bertahan. Pasalnya, terdapat ornament-ornament yang rumit tapi unik untuk dijadikan hiasan bangunan. Selain itu, perletakkan jendela yang sedikit menyempit namun elegan menjadi salah satu ciri khas dari desain rumah ini.
Meskipun demikian, desain rumah yang mengusung gaya vintage lengang peminat. Pembuatan ornament yang menyulitkan membuat orang-orang berpikir dua kali. Belum lagi perubahan gaya desain pada rumah untuk diganti minimalis menjadi vintage sangat berlawanan. Jangan lupakan perihal dana yang tidak sedikit jika menggunakan desain vintage ini.
Lain hal dari yang di atas, ada beberapa bangunan yang hanya fokus kepada desain dibandingkan bangunan itu sendiri. Hal ini mengakibatkan beberapa aspek (seperti kekuatan, ketahanan) menjadi abai. Sehingga bangunan yang bagus itu tidak bertahan lama jika ada bencana alam yang datang.
Meskipun mendesain bangunan terkesan mudah, namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:
1. Kenyamanan
Desain suatu bangunan sangat berpengaruh kepada kenyaman psikologi seseorang. Misalnya saja saat seseorang berkunjung ke bangunan bergaya vintage, auta keeropaannya begitu kental. Terlebih gaya vintage mengusung kemewahan. Hal ini berbanding terbalik jika berkunjung ke bangunan minmalis. Kesan lapang lebih kental terasa.
2. Corak budaya
Sebuah bangunan akan sangat berpengaruh untuk identitas dari tempat itu sendiri. Misalnya saja saat semua bangunan di suatu wilayah masih mempertahankan rumah dengan gaya panggung. Bahkan tidak ada rumah yang terbuat dari batu bata. Tidak menutup kemungkinan jika tempat tersebut akan berganti nama mengikuti nama bangunan tersebut.
3. Keinginan pemilik bangunan
Hal ini sangatlah begitu krusial, selain menimbang perihal dana. Pasalnya, selera setiap orang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tak ayal, dalam mendesain rumah akan ada satu desain bangunan yang terlihat berbeda, namun sesuai dengan keinginan sang pemilik. Misalnya saja seperti sekarang ini desain bangunan dengan gaya minimalis begitu menjamur, tapi ada beberapa orang memutuskan membangun rumah dengan desain yang berbeda sesuai keinginannya.
Dalam perkembangan desain bangunan, kepopuleran dari salah satu gaya bangunan sangat berperan penting. Namun, hal ini tidak bisa menjadi faktor yang begitu kuat. Pasalnya, untuk sebuah desain bangunan itu dikembalikan kepada individu masing-masing.
Terkecuali pada bangunan yang ada di kompleks perumahan. Di sana, sudah diatur sedemikian rupa agar rumah asli terlihat sama dengan yang lainnya. Mulai dari penempatan ruang, interior (bagian dalam rumah), hingga eksterior (bagian luar rumah). Hal ini sangat berpengaruh kepada anggaran bisnis untuk kompleks perumahan. Meskipun demikian, ada beberapa orang yang berusaha memodifikasi sesuai keinginannya sendiri.
Semua itu dikembalikan kepada keinginan masing-masing. Mewujudkan rumah impian dengan desain bangunan yang sesuai keinginan.
Tuesday, 23 April 2019
MEMBANGUN/MENCARI RUMAH BUKAN DISEBABKAN OLEH GENGSI, TAPI KARENA MEMBUTUHKAN TEMPAT TINGGAL ITU SENDIRI
Hunian rumah tinggal adalah salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Namun, membangun rumah sendiri terdapat satu kepuasan yang tak terkira.
Bicara mengenai rumah, tak akan bisa lepas dari perkembangan jumlah umat manusia pada sekarang ini. Pasalnya, semakin banyak manusia di atas bumi, permintaan akan hunian rumah tinggal sangat meningkat. Sehingga untuk membangun rumah sendiri sangatlah susah, menimbang lahan yang sangat langka.
Kompleks perumahan bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan di atas. Mencari tempat tinggal yang layak sekaligus dengan desain rumah terdepan. Perihal harga, menyesuaikan dengan lokasi perumahan, apakah berada di tengah atau pinggir kota. Semakin luas ukuran rumah, semakin banyak pula dana yang mesti dikeluarkan. Terlebih lagi, hal ini juga sangat mencolok dari segi desain, secara menarik minat pembeli.
Kendati terlihat sangat mudah, sebenarnya terdapat beberapa skema panjang agar perwujudan rumah impian di perumahan tidak berujung penggusuran. Pasalnya, untuk menghuni salah satu rumah di kompleks perumahan, mesti mempunyai perencanaan perihal biaya yang sangat matang. Bagaimana angsuran tiap bulanannya. Apakah sesuai dengan fasilitas yang ada. Terlebih pada lokasi perumahan, sangat berbeda perumahan di tengah dengan pinggiran kota.
Belum lagi mematuk seberapa jauh jarak kompleks perumahan dengan tempat kerja, pasar, sekolah, rumah sakit, dan hal yang dirasa perlu lainnya. Jangan sampai berakhir dengan kepusingan tujuh keliling karena mempunyai rumah yang sangat jauh, sehingga memakan waktu yang lama di perjalanan.
Upaya di atas tidaklah cukup jika gengsi yang akan menjadi landasan utama untuk menghuni kompleks perumahan. Meskipun dengan desain rumah yang sangat menawan dan kekinian, belum tentu ada kebahgiaan di sana. Pasalnya, jika hanya ingin menunjukkan bahwasannya rumah yang ditempati sangatlah bagus, belum tentu orang yang membicarkan hal itu dapat tersenyum puas. Pada akhirnya, rumah yang didiami berubah fungsi dari tempat tinggal menjadi tempat mencari pujian.
Ditilik dari perihal dana, hal ini sangat membutuhkan perhatian ekstra. Pasalnya, mengatur keuangan untuk biaya angsuran dengan keperluan lainnya terkesan mudah, namun sulit untuk diterapkan. Belum lagi jika penghasilan hanya dihabiskan untuk hura-hura tanpa memikir tanggung jawab kepada rumah yang didiami hanya karena sebuah gengsi. Tidak menutup jika pihak perumahan akan melakukan penggusuran dan pemilik rumah akan berurai air mata.
Lantas apakah beda dengan membangun rumah sendiri?
Sekiranya sama saja, namun ada kepuasan sendiri jika uang hasil keringat dapat menghasilkan tempat tinggal sendiri.
Hal ini dapat dilihat beberapa faktor. Apakah membuat rumah di atas tanah milik harta warisan? Jika iya, tidak perlu memusingkan akan anggaran pembelian tanah. Seandainya tidak memiliki tanah? Bisa, tapi mesti membeli tanah. Lalu timbul lagi pertanyaan, apakah tanah itu berlokasi di tengah atau pinggiran kota? Jika berada di tengah kota, sudah dipastikan jika harga tanah bisa melebihi harga materi dari rumah itu sendiri dan berbanding terbalik jika berada di pinggiran kota. Namun banyak juga yang membangun rumah di tengah kota.
Membangun rumah sendiri sangatlah berbeda dengan kompleks perumahan. Pasalnya, di sana terdapat wujud rasa cinta untuk membangun istana milik sendiri, meskipun hanya sederhana. Mewujudkan angan-angan perihal rumah impian yang diidamkan. Belum lagi biaya akan materi bangunan bisa ditekankan, namun memiliki kualitas yang bagus. Terlebih lagi kepada desain rumah yang bisa dirancang sendiri.
Beberapa bulan kemarin sempat santer tentang rumah dengan luas tanah yang hanya sedikit, namun dapat menampung orang serta barang yang berharga. Hal itu dapat dijadikan contoh perihal solusi membangun rumah idaman dengan melawan harga tanah yang semakin naik dan merancang desain yang unik.
Pada akhirnya, mendiami kompleks perumahan dengan membangun rumah sendiri tidak ada yang salah di antara dua hal tersebut. Kembali kepada diri sendiri, apakah membangun rumah untuk tempat tinggal atau mencari gengsi yang akan berujung pada meruntuhkan rumah itu sendiri.
Gambar milik pribadi.
Bicara mengenai rumah, tak akan bisa lepas dari perkembangan jumlah umat manusia pada sekarang ini. Pasalnya, semakin banyak manusia di atas bumi, permintaan akan hunian rumah tinggal sangat meningkat. Sehingga untuk membangun rumah sendiri sangatlah susah, menimbang lahan yang sangat langka.
Kompleks perumahan bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan di atas. Mencari tempat tinggal yang layak sekaligus dengan desain rumah terdepan. Perihal harga, menyesuaikan dengan lokasi perumahan, apakah berada di tengah atau pinggir kota. Semakin luas ukuran rumah, semakin banyak pula dana yang mesti dikeluarkan. Terlebih lagi, hal ini juga sangat mencolok dari segi desain, secara menarik minat pembeli.
Kendati terlihat sangat mudah, sebenarnya terdapat beberapa skema panjang agar perwujudan rumah impian di perumahan tidak berujung penggusuran. Pasalnya, untuk menghuni salah satu rumah di kompleks perumahan, mesti mempunyai perencanaan perihal biaya yang sangat matang. Bagaimana angsuran tiap bulanannya. Apakah sesuai dengan fasilitas yang ada. Terlebih pada lokasi perumahan, sangat berbeda perumahan di tengah dengan pinggiran kota.
Belum lagi mematuk seberapa jauh jarak kompleks perumahan dengan tempat kerja, pasar, sekolah, rumah sakit, dan hal yang dirasa perlu lainnya. Jangan sampai berakhir dengan kepusingan tujuh keliling karena mempunyai rumah yang sangat jauh, sehingga memakan waktu yang lama di perjalanan.
Upaya di atas tidaklah cukup jika gengsi yang akan menjadi landasan utama untuk menghuni kompleks perumahan. Meskipun dengan desain rumah yang sangat menawan dan kekinian, belum tentu ada kebahgiaan di sana. Pasalnya, jika hanya ingin menunjukkan bahwasannya rumah yang ditempati sangatlah bagus, belum tentu orang yang membicarkan hal itu dapat tersenyum puas. Pada akhirnya, rumah yang didiami berubah fungsi dari tempat tinggal menjadi tempat mencari pujian.
Ditilik dari perihal dana, hal ini sangat membutuhkan perhatian ekstra. Pasalnya, mengatur keuangan untuk biaya angsuran dengan keperluan lainnya terkesan mudah, namun sulit untuk diterapkan. Belum lagi jika penghasilan hanya dihabiskan untuk hura-hura tanpa memikir tanggung jawab kepada rumah yang didiami hanya karena sebuah gengsi. Tidak menutup jika pihak perumahan akan melakukan penggusuran dan pemilik rumah akan berurai air mata.
Lantas apakah beda dengan membangun rumah sendiri?
Sekiranya sama saja, namun ada kepuasan sendiri jika uang hasil keringat dapat menghasilkan tempat tinggal sendiri.
Hal ini dapat dilihat beberapa faktor. Apakah membuat rumah di atas tanah milik harta warisan? Jika iya, tidak perlu memusingkan akan anggaran pembelian tanah. Seandainya tidak memiliki tanah? Bisa, tapi mesti membeli tanah. Lalu timbul lagi pertanyaan, apakah tanah itu berlokasi di tengah atau pinggiran kota? Jika berada di tengah kota, sudah dipastikan jika harga tanah bisa melebihi harga materi dari rumah itu sendiri dan berbanding terbalik jika berada di pinggiran kota. Namun banyak juga yang membangun rumah di tengah kota.
Membangun rumah sendiri sangatlah berbeda dengan kompleks perumahan. Pasalnya, di sana terdapat wujud rasa cinta untuk membangun istana milik sendiri, meskipun hanya sederhana. Mewujudkan angan-angan perihal rumah impian yang diidamkan. Belum lagi biaya akan materi bangunan bisa ditekankan, namun memiliki kualitas yang bagus. Terlebih lagi kepada desain rumah yang bisa dirancang sendiri.
Beberapa bulan kemarin sempat santer tentang rumah dengan luas tanah yang hanya sedikit, namun dapat menampung orang serta barang yang berharga. Hal itu dapat dijadikan contoh perihal solusi membangun rumah idaman dengan melawan harga tanah yang semakin naik dan merancang desain yang unik.
Pada akhirnya, mendiami kompleks perumahan dengan membangun rumah sendiri tidak ada yang salah di antara dua hal tersebut. Kembali kepada diri sendiri, apakah membangun rumah untuk tempat tinggal atau mencari gengsi yang akan berujung pada meruntuhkan rumah itu sendiri.
Wednesday, 10 April 2019
DISKRIMINASI HANYA DILAKUKAN OLEH PARA GOLONGAN (BUKAN) MANUSIA
Dalam sebuah kasus kejahatan, seorang yang mengaku salah adalah manusia yang masih punya hati.
Mari sejenak kita tinggalkan sejenak perihal pilihan pemimpin negara. Semoga saja tulisan ini tidak menyerempet ke arah sana
#JusticeforAudrey menjadi hastag populer belakangan jam terakhir. Pasalnya, gadis yang menginjak bangku SMP menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh siswi SMA.
Sudah menjadi rahasia umum jika kekerasan sangatlah tidak terbatas di negeri ini. Dalam menelaah kejadian tersebut, siapakah yang mesti disalahkan? Pelaku? Korban? Atau saksi mata yang hanya menonton tanpa ada tergerak norma kehidupan mengenai perdamaian?
Pembullyan di Indonesia tidak hanya sekali ini terjadi. Boleh dibilang, jika kata kerja ini telah menyebabkan korbannya terluka secara fisik, batin, mental, serta kejiwaannya. Bahkan cara ini lebih buruk dibandingkan membunuh korban secara langsung. Korban pembulyan disiksa dari berbagai arah sehingga menimbulkan efek yang sangat parah. Tidak ada semangat hidup lagi selain membalaskan bully kepada orang lain. Tak ayal, bunuh diri juga sangat digemari lantaran pembulyan masih berlanjut kepada korban.
Dilansir dari situs-situs terkemuka, akar permasalahan dari kasus buly ini adalah perihal asmara (apakah berita itu benar atau tidak). Entah bagaimana hal ini bisa berkaitan dengan siswi-siswi SMA yang secara lebih sedikit matang, namun malah melakukan hal yang kekanak-kanakan. Menghancurkan segala sesuatu jika kehendaknya tak terpenuhi.
Petisi-petisi berupa tanda tangan untuk korban banyak bertebaran di sosial media. Mulai dari whatsapp, facebook, twiter, hingga instagram. Esai maupun artikel mengenai kasus ini banyak mencuat di antara portal berita politik.
Kendati demikian, hal itu tidak membuat serta merta pembulyan akan berakhir di sini. Tapi, setidaknya dapat memberi tahu jika hal tersebut sangatlah tidak baik. Entah itu bagi pelaku sendiri atau terlebih pada korban.
Belum lagi korban diskriminasi datang dari para pendukung capres entah itu paslon 1 atau 2. Meskipun berita ini kalah tenar dengan kasus gadis SMP, tapi tidak bisa menutup mata jika diskriminasi masih berlaku di negara ini.
Sebelum hal itu tampak terang-terangan, pembulyan awalnya dimulai dari ketidak sukaan seorang pendukung terhadap capres lain. Tak terima direndahkan, pembulyan terus berlanjut hingga baku hantam. Bahkan tak jarang orang satu rumah sama-sama mendiskriminasi anggota keluarganya sendiri. Siapa yang mesti disalahkan?
Dalam kasus Audrey, kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA terdengar sangat tidak wajar. Pasalnya bagaimana mungkin orang usia 17 tahun (secara sudah bisa berpikir maju) dengan sangat ringan tangan menghajar orang usia 14 tahun?
Pembullyan berada sangat dekat di sekitar. Bisa saja orang di samping adalah pelaku atau korban. Bahkan bisa saja pelakunya adalah diri sendiri. Semua tidak akan terjadi jika akal pikiran diletakkan pada urutan teratas daripada perasaan yang mesti mengambil tindakan.
Pada berbagai kesempatan—selain kasus pembulyan kali ini—sering kali hasrat mampu mengalahkan otak. Mencoba merecoki sehingga kekerasan terkesan sangatlah baik guna mencapai tujuan yang tidak jelas. Tak jarang hal itu berujung kepada terenggutnya nyawa korban.
Memaknai manusia yang tidak sempurna, kesalahan acap kali terjadi. Entah secara sengaja atau tidak, semua itu tak terlepas atas kontrol emosi. Bagaimana mungkin membunuh seseorang dapat dikatakan sebuah kekhilafan?
Kendati demikian, manusia tetaplah manusia. Kesalahan akan terus berlanjut, namun tidak mungkin pembullyan ini bisa dihentikan. Cara paling ampuh adalah dengan membuat jera para pelaku pembulyan sehingga calon pelaku tidak tergerak untuk melakukan pembullyan. Hukuman yang setimpal sangat dibutuhkan guna menegakkan hukum untuk kasus-kasus lainnya. Mungkin bisa belajar kepada negara tetangga perihal masalah ini—bukan pendidikan serta ilmu lainnya yang mesti dicontoh.
Meskipun manusia adalah gudangnya kesalahan, tapi jika perihal perasaan sangatlah peka. Bahkan hal ini melatar belakangi kasus Audrey. Meskipun demikian, bagian terpentingnya adalah manusia yang mempunyai hati adalah yang merasa salah jika dirinya berbuat kesalahan.
Sumber gambar dari sini
Mari sejenak kita tinggalkan sejenak perihal pilihan pemimpin negara. Semoga saja tulisan ini tidak menyerempet ke arah sana
#JusticeforAudrey menjadi hastag populer belakangan jam terakhir. Pasalnya, gadis yang menginjak bangku SMP menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh siswi SMA.
Sudah menjadi rahasia umum jika kekerasan sangatlah tidak terbatas di negeri ini. Dalam menelaah kejadian tersebut, siapakah yang mesti disalahkan? Pelaku? Korban? Atau saksi mata yang hanya menonton tanpa ada tergerak norma kehidupan mengenai perdamaian?
Pembullyan di Indonesia tidak hanya sekali ini terjadi. Boleh dibilang, jika kata kerja ini telah menyebabkan korbannya terluka secara fisik, batin, mental, serta kejiwaannya. Bahkan cara ini lebih buruk dibandingkan membunuh korban secara langsung. Korban pembulyan disiksa dari berbagai arah sehingga menimbulkan efek yang sangat parah. Tidak ada semangat hidup lagi selain membalaskan bully kepada orang lain. Tak ayal, bunuh diri juga sangat digemari lantaran pembulyan masih berlanjut kepada korban.
Dilansir dari situs-situs terkemuka, akar permasalahan dari kasus buly ini adalah perihal asmara (apakah berita itu benar atau tidak). Entah bagaimana hal ini bisa berkaitan dengan siswi-siswi SMA yang secara lebih sedikit matang, namun malah melakukan hal yang kekanak-kanakan. Menghancurkan segala sesuatu jika kehendaknya tak terpenuhi.
Petisi-petisi berupa tanda tangan untuk korban banyak bertebaran di sosial media. Mulai dari whatsapp, facebook, twiter, hingga instagram. Esai maupun artikel mengenai kasus ini banyak mencuat di antara portal berita politik.
Kendati demikian, hal itu tidak membuat serta merta pembulyan akan berakhir di sini. Tapi, setidaknya dapat memberi tahu jika hal tersebut sangatlah tidak baik. Entah itu bagi pelaku sendiri atau terlebih pada korban.
Belum lagi korban diskriminasi datang dari para pendukung capres entah itu paslon 1 atau 2. Meskipun berita ini kalah tenar dengan kasus gadis SMP, tapi tidak bisa menutup mata jika diskriminasi masih berlaku di negara ini.
Sebelum hal itu tampak terang-terangan, pembulyan awalnya dimulai dari ketidak sukaan seorang pendukung terhadap capres lain. Tak terima direndahkan, pembulyan terus berlanjut hingga baku hantam. Bahkan tak jarang orang satu rumah sama-sama mendiskriminasi anggota keluarganya sendiri. Siapa yang mesti disalahkan?
Dalam kasus Audrey, kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA terdengar sangat tidak wajar. Pasalnya bagaimana mungkin orang usia 17 tahun (secara sudah bisa berpikir maju) dengan sangat ringan tangan menghajar orang usia 14 tahun?
Pembullyan berada sangat dekat di sekitar. Bisa saja orang di samping adalah pelaku atau korban. Bahkan bisa saja pelakunya adalah diri sendiri. Semua tidak akan terjadi jika akal pikiran diletakkan pada urutan teratas daripada perasaan yang mesti mengambil tindakan.
Pada berbagai kesempatan—selain kasus pembulyan kali ini—sering kali hasrat mampu mengalahkan otak. Mencoba merecoki sehingga kekerasan terkesan sangatlah baik guna mencapai tujuan yang tidak jelas. Tak jarang hal itu berujung kepada terenggutnya nyawa korban.
Memaknai manusia yang tidak sempurna, kesalahan acap kali terjadi. Entah secara sengaja atau tidak, semua itu tak terlepas atas kontrol emosi. Bagaimana mungkin membunuh seseorang dapat dikatakan sebuah kekhilafan?
Kendati demikian, manusia tetaplah manusia. Kesalahan akan terus berlanjut, namun tidak mungkin pembullyan ini bisa dihentikan. Cara paling ampuh adalah dengan membuat jera para pelaku pembulyan sehingga calon pelaku tidak tergerak untuk melakukan pembullyan. Hukuman yang setimpal sangat dibutuhkan guna menegakkan hukum untuk kasus-kasus lainnya. Mungkin bisa belajar kepada negara tetangga perihal masalah ini—bukan pendidikan serta ilmu lainnya yang mesti dicontoh.
Meskipun manusia adalah gudangnya kesalahan, tapi jika perihal perasaan sangatlah peka. Bahkan hal ini melatar belakangi kasus Audrey. Meskipun demikian, bagian terpentingnya adalah manusia yang mempunyai hati adalah yang merasa salah jika dirinya berbuat kesalahan.
Friday, 5 April 2019
TAK SELAMANYA HUJAN MEMBAHAS TENTANG KENANGAN
Maraknya praktek jatuh cinta membuat sebagian kalangan manusia lupa akan wujud sebenarnya dari hujan itu sendiri.
Telah diketahui bersama bahkan sudah tidak menjadi rahasia umum jika air adalah sumber kehidupan. Dalam kitab suci Al-qur`an telah dijelaskan bahwasannya penciptaan manusia berasal dari air.
Pada kehidupan sehari-hari air sangatlah dibutuhkan. Mencuci perlu air. Memasak perlu air. Mandi perlu air. Membangun rumah perlu air. Termasuk perihal kenangan dengan mantan. Eh?
Sejatinya air bisa menjadi pemersatu bangsa (saat berbagi minuman kepada sesama makhluk hidup). Bisa menjadi pemecah belah (contohnya perang Palestina dengan Israel, umumnya terjadi di negeri Timur Tengah). Bisa menjadi kebahagian tersendiri (saat menikmati rinai). Atau menjadi sebuah malapetaka (banjir).
Berbicara mengenai hujan, dalam proses pembentukannya sangatlah sederhana. Secara singkatnya melalui proses penguapan, lalu menggumpal menjadi awan, lantas bersatu bersama awan-awan yang lain, bertemu dengan angin, untuk kemudian berubah menjadi hujan.
Proses yang tidak memakan waktu banyak. Tapi jika ditilik untuk daerah padang pasir (misalnya wilayah benua Afrika), hal di atas tidak serta merta terwujud seperti simsalabim. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah semestinya siklus hujan itu sebentar?
Di Indonesia sendiri, proses terjadinya hujan dibedakan atas tiga pola:
1. Pola curah hujan monsun
Pola curah hujan ini yang memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan). Maksudnya, hujan terjadi pada bulan-bulan tertentu yaitu pada bulan Juni, Juli dan Agustus akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan kering (musim kemarau), sedangkan pada bulan Desember, Januari, dan Februari akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan basah (musim hujan).
Kemudian untuk sisa enam bulan lainnya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan dan tiga bulan peralihan musim hujan ke musim kemarau).
Daerah yang didominasi curah hujan monsun adalah: Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa, Nusa Tenggara bagian Papua, Bali, dan Sumatera bagian Selatan.
2. Pola curah hujan ekuatorial
Pola curah hujan ekuatorial memiliki ciri-ciri yang bersifat bimodial (dua puncak hujan). Berbeda dengan pola curah hujan monsun yang unmodial. Terjadi pada bulan-bulan tertentu, yakni pada bulan Maret dan Oktober pada saat terjadi equinox (fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa). Biasanya daerah yang didominasi dengan curah hujan ekuatorial adalah pulau Kalimantan bagian Utara dan pulau Sumatera bagian Tengah dan Utara.
3. Pola curah hujan lokal
Pola curah hujan ini dipengaruhi oleh faktor wilayah tersebut. Sama halnya dengan pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak hujan). Namun, meskipun sekilas sama seperti pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal berlawanan dengan pola curah hujan monsun. Sehingga puncak musim hujan berlangsung pada pertengahan tahun. Wilayah yang di dominasi dengan curah hujan lokal adalah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dari hal di atas, jelas Indonesia sendiri memiliki ragam jenis pola curah hujanbukan hanya masalah cinta yang beragam. Selain itu, faktor wilayah sangat berpengaruh apakah daerah tersebut akan mengalami pola curah hujan monsun, ekuatorial, atau lokal.
Lantas apakah di padang pasir tidak akan pernah hujan lantaran daerah di sana sangat sulut menemukan keberadaan air?
Berpatokan kepada proses terjadinya hujan pada bagian penguapan, hal itu sedikit di luar nalar. Biasanya penguapan terjadi pada daerah yang relatif memiliki banyak air. Namun pada wilayah padang pasir, hujan dipengaruhi oleh faktor angin. Hal ini merupakan faktor dari siklus hujan panjang.
Setelah terjadinya pembentukan awan, tak serta merta hujan akan turun. Bahkan kebanyakan awan didorong oleh angin untuk ke wilayah tertentu (ini dipengaruhi oleh arah pergerakannya). Jika awan tersebut telah mempunyai kadar air yang banyak, bisa disimpulkan hujan akan turun di daerah tersebut. Tak terkecuali di daerah padang pasir.
Pada sebagian besar wilayah Indonesia sendiri, pada rentang bulan April-September bisa sedikit berbahagia, pasalnya hujan tidak turun secara intens seperti musim hujan (selain pesta politik yang puncaknya bulan April). Tapi tidak menutup kemungkinan hujan akan turun di saat matahari tengah teriknya dan lupa membawa payung, hal itu yang membuat bisa terkenang akan mantan beserta hal lainnya. Eh?
Sumber gambar dari: https://wall.alphacoders.com
Telah diketahui bersama bahkan sudah tidak menjadi rahasia umum jika air adalah sumber kehidupan. Dalam kitab suci Al-qur`an telah dijelaskan bahwasannya penciptaan manusia berasal dari air.
Pada kehidupan sehari-hari air sangatlah dibutuhkan. Mencuci perlu air. Memasak perlu air. Mandi perlu air. Membangun rumah perlu air. Termasuk perihal kenangan dengan mantan. Eh?
Sejatinya air bisa menjadi pemersatu bangsa (saat berbagi minuman kepada sesama makhluk hidup). Bisa menjadi pemecah belah (contohnya perang Palestina dengan Israel, umumnya terjadi di negeri Timur Tengah). Bisa menjadi kebahagian tersendiri (saat menikmati rinai). Atau menjadi sebuah malapetaka (banjir).
Berbicara mengenai hujan, dalam proses pembentukannya sangatlah sederhana. Secara singkatnya melalui proses penguapan, lalu menggumpal menjadi awan, lantas bersatu bersama awan-awan yang lain, bertemu dengan angin, untuk kemudian berubah menjadi hujan.
Proses yang tidak memakan waktu banyak. Tapi jika ditilik untuk daerah padang pasir (misalnya wilayah benua Afrika), hal di atas tidak serta merta terwujud seperti simsalabim. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah semestinya siklus hujan itu sebentar?
Di Indonesia sendiri, proses terjadinya hujan dibedakan atas tiga pola:
1. Pola curah hujan monsun
Pola curah hujan ini yang memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan). Maksudnya, hujan terjadi pada bulan-bulan tertentu yaitu pada bulan Juni, Juli dan Agustus akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan kering (musim kemarau), sedangkan pada bulan Desember, Januari, dan Februari akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan basah (musim hujan).
Kemudian untuk sisa enam bulan lainnya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan dan tiga bulan peralihan musim hujan ke musim kemarau).
Daerah yang didominasi curah hujan monsun adalah: Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa, Nusa Tenggara bagian Papua, Bali, dan Sumatera bagian Selatan.
2. Pola curah hujan ekuatorial
Pola curah hujan ekuatorial memiliki ciri-ciri yang bersifat bimodial (dua puncak hujan). Berbeda dengan pola curah hujan monsun yang unmodial. Terjadi pada bulan-bulan tertentu, yakni pada bulan Maret dan Oktober pada saat terjadi equinox (fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa). Biasanya daerah yang didominasi dengan curah hujan ekuatorial adalah pulau Kalimantan bagian Utara dan pulau Sumatera bagian Tengah dan Utara.
3. Pola curah hujan lokal
Pola curah hujan ini dipengaruhi oleh faktor wilayah tersebut. Sama halnya dengan pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak hujan). Namun, meskipun sekilas sama seperti pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal berlawanan dengan pola curah hujan monsun. Sehingga puncak musim hujan berlangsung pada pertengahan tahun. Wilayah yang di dominasi dengan curah hujan lokal adalah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dari hal di atas, jelas Indonesia sendiri memiliki ragam jenis pola curah hujan
Lantas apakah di padang pasir tidak akan pernah hujan lantaran daerah di sana sangat sulut menemukan keberadaan air?
Berpatokan kepada proses terjadinya hujan pada bagian penguapan, hal itu sedikit di luar nalar. Biasanya penguapan terjadi pada daerah yang relatif memiliki banyak air. Namun pada wilayah padang pasir, hujan dipengaruhi oleh faktor angin. Hal ini merupakan faktor dari siklus hujan panjang.
Setelah terjadinya pembentukan awan, tak serta merta hujan akan turun. Bahkan kebanyakan awan didorong oleh angin untuk ke wilayah tertentu (ini dipengaruhi oleh arah pergerakannya). Jika awan tersebut telah mempunyai kadar air yang banyak, bisa disimpulkan hujan akan turun di daerah tersebut. Tak terkecuali di daerah padang pasir.
Pada sebagian besar wilayah Indonesia sendiri, pada rentang bulan April-September bisa sedikit berbahagia, pasalnya hujan tidak turun secara intens seperti musim hujan (selain pesta politik yang puncaknya bulan April). Tapi tidak menutup kemungkinan hujan akan turun di saat matahari tengah teriknya dan lupa membawa payung, hal itu yang membuat bisa terkenang akan mantan beserta hal lainnya. Eh?
Tuesday, 2 April 2019
KETIKA BANGUNAN PENJAJAHAN LEBIH AWET DIBANDINGKAN BANGUNAN MILENIAL
Faktor ketahanan suatu bangunan gedung sangat berpengaruh untuk kemaslahatan manusia ke depannya.
Sebagai negara berkembang, Indonesia sangatlah gencar untuk melaksanakan pembangunan guna menuju era kemajuan seperti negara tetangga. Dalam beberapa aspek, hal ini sangat dikhususkan seperti sarana jalan. Berdasarkan portal berita online Detik.com, tercatat selama kurun waktu 2014-2018 terjadi pembangunan jalan sepanjang 3432 km jalan nasional dan 941 km kalan tol.
Kendati angka-angka tersebut sangatlah berkembang jauh dari era pemerintahan sebelumnya, apakah jalan-jalan itu dapat tahan lama layaknya bangunan museum Fatihillah di Kota Tua?
Seperti yang diketahui bersama, proyek pembangunan jalan (apalagi mempunyai rentang yang panjang dan medan cukup sulit) bukanlah pekerjaan yang dapat dihabiskan dalam waktu singkat. Survey lokas, pembebasan lahan, perenacanaan, lama pengerjaan, dan sebagainya. Kesemua itu bukanlah perkara seperti berbicara.
Bahkan saat berada di lapangan, terkadang hal-hal di atas sangat berbeda dengan aslinya. Belum lagi akhir-akhir ini marak kasus korupsi akibat penyelewangan dana untuk pembangunan infrastruktur negara. Sehingga bahan-bahan yang digunakan dalam perenacanaan tidak terlaksana dengan baik. Akibatnya, bangunan tersebut kekurangan daya tahannya. Jika terjadi bencana alam hanya menghitung waktu bangunan itu hancur.
Lantas siapa yang mesti disalahkan? Tukang? Arsitek? Lokasi? Atau Tuhan yang telah mengirimkan bencana alam?
Ok, kembali kepada judul.
Sebagaimana yang telah diketahui, negeri kincir angin menjajah Indonesia sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Selama lebih kurang 350 tahun, Belanda tidak hanya menjarah hasil bumi, namun ada beberapa meninggalkan bangunannya (meskipun lebih banyak duka).
Jika diperhatikan, bangunan peninggalan di masa penjajahan bisa dibilang memiliki kekuatan yang bagus. Selain daripada itu, desain-desainnya begitu memukau. Bahkan menjadi trend untuk bangunan setelah zaman penjajahan. Sebut saja Jam Gadang, Museum Fatihillah, Lewang Sewu, dan lain-lain.
Bangunan zaman penjajahan juga mempunyai aturan tersendiri (layaknya SNI), sehingga dalam pelaksanaannya terwujud sesuai dengan harapan. Mengutamakan kekuatan daripada keindahan bangunan itu sendiri.
Banyaknya angka infrastruktur hancur akibat bencana alam sangatlah memprihatinkan. Pasalnya, umur bangunan itu belumlah mencapai angka 20 tahun.
Selain dalam hal desain, faktor ketahanan bangunan sangatlah berbeda. Sayangnya, beberapa tahun belakangan keindahan suatu bangunan sangat diperhatikan, bahkan diistimewakan. Akibatnya, struktur menjadi abai. Hal itulah yang membuat bangunan menjadi tidak kuat. Lantas pembengkakan utang negara untuk pembangunan kian besar.
Menilik dari Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap ketentuan bahan-bahan bangunan, jika dijalankan dengan baik, infrastruktur yang dibangun akan terjamin kualitasnya. Tak asing lagi jika kebanyakan pekerja berusaha menggunakan material semurah mungkin, sehingga pengeluaran untuk bangunan itu tidak banyak.
Belum lagi seperti yang di atas, maraknya korupsi di negeri ini (terutama di bidang infrastruktur negara) membuat pembangunan infrastruktur tidak berjalan lancar bahkan terhenti seperti proyek Hambalang. Sehingga bangunan yang telah jadi tidak menjadi kokoh akibat material yang dibutuhkan bergeser menjadi kepimilikan sendiri. Mungkin ini terjadi akibat tidak menerapkan disiplin ilmu (dibahas pada tulisan sebelumnya).
Perihal ketahanan bangunan, kontraktor yang bekerja maupun perencana bisa melihat kembali kepada peninggalan Belanda yang banyaknya menggunakan adukan pasir dan kapur. Tidak dapat dipungkiri soal ketahanan bangunan, negeri ini sangat tertinggal jauh. Abaikan sebentar data-data mengenai pencapaian pembangunan infrastruktur yang begitu wah. Kalaupun ketahanan tidak diperhatikan dan korupsi masih menjadi idaman untuk menyuap material bangunan, dalam kurun waktu singkat anak cucu negeri tidak dapat menikmati hal tersebut.
Sebagai negara yang memiliki wilayah air yang banyak, sudah sebaiknya belajar kepada negeri kincir air yang berada di bawah permukaan tanah, namun tidak terjadi pasang air laut masuk ke dalam kota. Berusaha memahmi sifat-sifat alam tanpa abai dengan kebijakan dari Sang Maha Kuasa.
Catatan: tulisan ini tidak ada kaitannya dengan kinerja dari capres saat ini. Toh, ide tulisan ini sudah dipikirkan sebelum alam politik negeri ini kian meruncing setiap harinya.
Sebagai negara berkembang, Indonesia sangatlah gencar untuk melaksanakan pembangunan guna menuju era kemajuan seperti negara tetangga. Dalam beberapa aspek, hal ini sangat dikhususkan seperti sarana jalan. Berdasarkan portal berita online Detik.com, tercatat selama kurun waktu 2014-2018 terjadi pembangunan jalan sepanjang 3432 km jalan nasional dan 941 km kalan tol.
Kendati angka-angka tersebut sangatlah berkembang jauh dari era pemerintahan sebelumnya, apakah jalan-jalan itu dapat tahan lama layaknya bangunan museum Fatihillah di Kota Tua?
Seperti yang diketahui bersama, proyek pembangunan jalan (apalagi mempunyai rentang yang panjang dan medan cukup sulit) bukanlah pekerjaan yang dapat dihabiskan dalam waktu singkat. Survey lokas, pembebasan lahan, perenacanaan, lama pengerjaan, dan sebagainya. Kesemua itu bukanlah perkara seperti berbicara.
Bahkan saat berada di lapangan, terkadang hal-hal di atas sangat berbeda dengan aslinya. Belum lagi akhir-akhir ini marak kasus korupsi akibat penyelewangan dana untuk pembangunan infrastruktur negara. Sehingga bahan-bahan yang digunakan dalam perenacanaan tidak terlaksana dengan baik. Akibatnya, bangunan tersebut kekurangan daya tahannya. Jika terjadi bencana alam hanya menghitung waktu bangunan itu hancur.
Lantas siapa yang mesti disalahkan? Tukang? Arsitek? Lokasi? Atau Tuhan yang telah mengirimkan bencana alam?
Ok, kembali kepada judul.
Sebagaimana yang telah diketahui, negeri kincir angin menjajah Indonesia sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Selama lebih kurang 350 tahun, Belanda tidak hanya menjarah hasil bumi, namun ada beberapa meninggalkan bangunannya (meskipun lebih banyak duka).
Jika diperhatikan, bangunan peninggalan di masa penjajahan bisa dibilang memiliki kekuatan yang bagus. Selain daripada itu, desain-desainnya begitu memukau. Bahkan menjadi trend untuk bangunan setelah zaman penjajahan. Sebut saja Jam Gadang, Museum Fatihillah, Lewang Sewu, dan lain-lain.
Bangunan zaman penjajahan juga mempunyai aturan tersendiri (layaknya SNI), sehingga dalam pelaksanaannya terwujud sesuai dengan harapan. Mengutamakan kekuatan daripada keindahan bangunan itu sendiri.
Banyaknya angka infrastruktur hancur akibat bencana alam sangatlah memprihatinkan. Pasalnya, umur bangunan itu belumlah mencapai angka 20 tahun.
Selain dalam hal desain, faktor ketahanan bangunan sangatlah berbeda. Sayangnya, beberapa tahun belakangan keindahan suatu bangunan sangat diperhatikan, bahkan diistimewakan. Akibatnya, struktur menjadi abai. Hal itulah yang membuat bangunan menjadi tidak kuat. Lantas pembengkakan utang negara untuk pembangunan kian besar.
Menilik dari Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap ketentuan bahan-bahan bangunan, jika dijalankan dengan baik, infrastruktur yang dibangun akan terjamin kualitasnya. Tak asing lagi jika kebanyakan pekerja berusaha menggunakan material semurah mungkin, sehingga pengeluaran untuk bangunan itu tidak banyak.
Belum lagi seperti yang di atas, maraknya korupsi di negeri ini (terutama di bidang infrastruktur negara) membuat pembangunan infrastruktur tidak berjalan lancar bahkan terhenti seperti proyek Hambalang. Sehingga bangunan yang telah jadi tidak menjadi kokoh akibat material yang dibutuhkan bergeser menjadi kepimilikan sendiri. Mungkin ini terjadi akibat tidak menerapkan disiplin ilmu (dibahas pada tulisan sebelumnya).
Perihal ketahanan bangunan, kontraktor yang bekerja maupun perencana bisa melihat kembali kepada peninggalan Belanda yang banyaknya menggunakan adukan pasir dan kapur. Tidak dapat dipungkiri soal ketahanan bangunan, negeri ini sangat tertinggal jauh. Abaikan sebentar data-data mengenai pencapaian pembangunan infrastruktur yang begitu wah. Kalaupun ketahanan tidak diperhatikan dan korupsi masih menjadi idaman untuk menyuap material bangunan, dalam kurun waktu singkat anak cucu negeri tidak dapat menikmati hal tersebut.
Sebagai negara yang memiliki wilayah air yang banyak, sudah sebaiknya belajar kepada negeri kincir air yang berada di bawah permukaan tanah, namun tidak terjadi pasang air laut masuk ke dalam kota. Berusaha memahmi sifat-sifat alam tanpa abai dengan kebijakan dari Sang Maha Kuasa.
Catatan: tulisan ini tidak ada kaitannya dengan kinerja dari capres saat ini. Toh, ide tulisan ini sudah dipikirkan sebelum alam politik negeri ini kian meruncing setiap harinya.






