Sumber gambar dari sini
Mari sejenak kita tinggalkan sejenak perihal pilihan pemimpin negara. Semoga saja tulisan ini tidak menyerempet ke arah sana
#JusticeforAudrey menjadi hastag populer belakangan jam terakhir. Pasalnya, gadis yang menginjak bangku SMP menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh siswi SMA.
Sudah menjadi rahasia umum jika kekerasan sangatlah tidak terbatas di negeri ini. Dalam menelaah kejadian tersebut, siapakah yang mesti disalahkan? Pelaku? Korban? Atau saksi mata yang hanya menonton tanpa ada tergerak norma kehidupan mengenai perdamaian?
Pembullyan di Indonesia tidak hanya sekali ini terjadi. Boleh dibilang, jika kata kerja ini telah menyebabkan korbannya terluka secara fisik, batin, mental, serta kejiwaannya. Bahkan cara ini lebih buruk dibandingkan membunuh korban secara langsung. Korban pembulyan disiksa dari berbagai arah sehingga menimbulkan efek yang sangat parah. Tidak ada semangat hidup lagi selain membalaskan bully kepada orang lain. Tak ayal, bunuh diri juga sangat digemari lantaran pembulyan masih berlanjut kepada korban.
Dilansir dari situs-situs terkemuka, akar permasalahan dari kasus buly ini adalah perihal asmara (apakah berita itu benar atau tidak). Entah bagaimana hal ini bisa berkaitan dengan siswi-siswi SMA yang secara lebih sedikit matang, namun malah melakukan hal yang kekanak-kanakan. Menghancurkan segala sesuatu jika kehendaknya tak terpenuhi.
Petisi-petisi berupa tanda tangan untuk korban banyak bertebaran di sosial media. Mulai dari whatsapp, facebook, twiter, hingga instagram. Esai maupun artikel mengenai kasus ini banyak mencuat di antara portal berita politik.
Kendati demikian, hal itu tidak membuat serta merta pembulyan akan berakhir di sini. Tapi, setidaknya dapat memberi tahu jika hal tersebut sangatlah tidak baik. Entah itu bagi pelaku sendiri atau terlebih pada korban.
Belum lagi korban diskriminasi datang dari para pendukung capres entah itu paslon 1 atau 2. Meskipun berita ini kalah tenar dengan kasus gadis SMP, tapi tidak bisa menutup mata jika diskriminasi masih berlaku di negara ini.
Sebelum hal itu tampak terang-terangan, pembulyan awalnya dimulai dari ketidak sukaan seorang pendukung terhadap capres lain. Tak terima direndahkan, pembulyan terus berlanjut hingga baku hantam. Bahkan tak jarang orang satu rumah sama-sama mendiskriminasi anggota keluarganya sendiri. Siapa yang mesti disalahkan?
Dalam kasus Audrey, kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA terdengar sangat tidak wajar. Pasalnya bagaimana mungkin orang usia 17 tahun (secara sudah bisa berpikir maju) dengan sangat ringan tangan menghajar orang usia 14 tahun?
Pembullyan berada sangat dekat di sekitar. Bisa saja orang di samping adalah pelaku atau korban. Bahkan bisa saja pelakunya adalah diri sendiri. Semua tidak akan terjadi jika akal pikiran diletakkan pada urutan teratas daripada perasaan yang mesti mengambil tindakan.
Pada berbagai kesempatan—selain kasus pembulyan kali ini—sering kali hasrat mampu mengalahkan otak. Mencoba merecoki sehingga kekerasan terkesan sangatlah baik guna mencapai tujuan yang tidak jelas. Tak jarang hal itu berujung kepada terenggutnya nyawa korban.
Memaknai manusia yang tidak sempurna, kesalahan acap kali terjadi. Entah secara sengaja atau tidak, semua itu tak terlepas atas kontrol emosi. Bagaimana mungkin membunuh seseorang dapat dikatakan sebuah kekhilafan?
Kendati demikian, manusia tetaplah manusia. Kesalahan akan terus berlanjut, namun tidak mungkin pembullyan ini bisa dihentikan. Cara paling ampuh adalah dengan membuat jera para pelaku pembulyan sehingga calon pelaku tidak tergerak untuk melakukan pembullyan. Hukuman yang setimpal sangat dibutuhkan guna menegakkan hukum untuk kasus-kasus lainnya. Mungkin bisa belajar kepada negara tetangga perihal masalah ini—bukan pendidikan serta ilmu lainnya yang mesti dicontoh.
Meskipun manusia adalah gudangnya kesalahan, tapi jika perihal perasaan sangatlah peka. Bahkan hal ini melatar belakangi kasus Audrey. Meskipun demikian, bagian terpentingnya adalah manusia yang mempunyai hati adalah yang merasa salah jika dirinya berbuat kesalahan.

Belum ada tanggapan untuk "DISKRIMINASI HANYA DILAKUKAN OLEH PARA GOLONGAN (BUKAN) MANUSIA"
Post a Comment