TAK SELAMANYA HUJAN MEMBAHAS TENTANG KENANGAN

Maraknya praktek jatuh cinta membuat sebagian kalangan manusia lupa akan wujud sebenarnya dari hujan itu sendiri.


Sumber gambar dari: https://wall.alphacoders.com

Telah diketahui bersama bahkan sudah tidak menjadi rahasia umum jika air adalah sumber kehidupan. Dalam kitab suci Al-qur`an telah dijelaskan bahwasannya penciptaan manusia berasal dari air.

Pada kehidupan sehari-hari air sangatlah dibutuhkan. Mencuci perlu air. Memasak perlu air. Mandi perlu air. Membangun rumah perlu air. Termasuk perihal kenangan dengan mantan. Eh?

Sejatinya air bisa menjadi pemersatu bangsa (saat berbagi minuman kepada sesama makhluk hidup). Bisa menjadi pemecah belah (contohnya perang Palestina dengan Israel, umumnya terjadi di negeri Timur Tengah). Bisa menjadi kebahagian tersendiri (saat menikmati rinai). Atau menjadi sebuah malapetaka (banjir).

Berbicara mengenai hujan, dalam proses pembentukannya sangatlah sederhana. Secara singkatnya melalui proses penguapan, lalu menggumpal menjadi awan, lantas bersatu bersama awan-awan yang lain, bertemu dengan angin, untuk kemudian berubah menjadi hujan.

Proses yang tidak memakan waktu banyak. Tapi jika ditilik untuk daerah padang pasir (misalnya wilayah benua Afrika), hal di atas tidak serta merta terwujud seperti simsalabim. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah semestinya siklus hujan itu sebentar?

Di Indonesia sendiri, proses terjadinya hujan dibedakan atas tiga pola:

1. Pola curah hujan monsun

Pola curah hujan ini yang memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan). Maksudnya, hujan terjadi pada bulan-bulan tertentu yaitu pada bulan Juni, Juli dan Agustus akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan kering (musim kemarau), sedangkan pada bulan Desember, Januari, dan Februari akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan basah (musim hujan).

Kemudian untuk sisa enam bulan lainnya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan dan tiga bulan peralihan musim hujan ke musim kemarau).

Daerah yang didominasi curah hujan monsun adalah: Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa, Nusa Tenggara bagian Papua, Bali, dan Sumatera bagian Selatan.

2. Pola curah hujan ekuatorial

Pola curah hujan ekuatorial memiliki ciri-ciri yang bersifat bimodial (dua puncak hujan). Berbeda dengan pola curah hujan monsun yang unmodial. Terjadi pada bulan-bulan tertentu, yakni pada bulan Maret dan Oktober pada saat terjadi equinox (fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa). Biasanya daerah yang didominasi dengan curah hujan ekuatorial adalah pulau Kalimantan bagian Utara dan pulau Sumatera bagian Tengah dan Utara.

3. Pola curah hujan lokal

Pola curah hujan ini dipengaruhi oleh faktor wilayah tersebut. Sama halnya dengan pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak hujan). Namun, meskipun sekilas sama seperti pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal berlawanan dengan pola curah hujan monsun. Sehingga puncak musim hujan berlangsung pada pertengahan tahun. Wilayah yang di dominasi dengan curah hujan lokal adalah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Dari hal di atas, jelas Indonesia sendiri memiliki ragam jenis pola curah hujan bukan hanya masalah cinta yang beragam. Selain itu, faktor wilayah sangat berpengaruh apakah daerah tersebut akan mengalami pola curah hujan monsun, ekuatorial, atau lokal.

Lantas apakah di padang pasir tidak akan pernah hujan lantaran daerah di sana sangat sulut menemukan keberadaan air?

Berpatokan kepada proses terjadinya hujan pada bagian penguapan, hal itu sedikit di luar nalar. Biasanya penguapan terjadi pada daerah yang relatif memiliki banyak air. Namun pada wilayah padang pasir, hujan dipengaruhi oleh faktor angin. Hal ini merupakan faktor dari siklus hujan panjang.

Setelah terjadinya pembentukan awan, tak serta merta hujan akan turun. Bahkan kebanyakan awan didorong oleh angin untuk ke wilayah tertentu (ini dipengaruhi oleh arah pergerakannya). Jika awan tersebut telah mempunyai kadar air yang banyak, bisa disimpulkan hujan akan turun di daerah tersebut. Tak terkecuali di daerah padang pasir.

Pada sebagian besar wilayah Indonesia sendiri, pada rentang bulan April-September bisa sedikit berbahagia, pasalnya hujan tidak turun secara intens seperti musim hujan (selain pesta politik yang puncaknya bulan April). Tapi tidak menutup kemungkinan hujan akan turun di saat matahari tengah teriknya dan lupa membawa payung, hal itu yang membuat bisa terkenang akan mantan beserta hal lainnya. Eh?

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "TAK SELAMANYA HUJAN MEMBAHAS TENTANG KENANGAN"

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Apakah hujan berpengaruh pada sinyal telkomsel, min?

    ReplyDelete