Halaman

Halaman

Wednesday, 15 May 2019

PENGGUNAAN WARNA PADA SEBUAH DINDING MAMPU MEMPENGARUHI PSIKOLOG BAGI PENGLIHATNYA

Satu titik warna mempunyai makna yang berbeda. Bahkan mampu menerka isi hati seseorang.




Sumber gambar dari sini.

Penggunaan warna pada dinding menjadi salah satu faktor penting untuk keindahan bangunan. Pasalnya, hal yang paling menarik dari suatu bangunan adalah warna. Bahkan menjadi hal yang sangat penting agar dilirik oleh banyak orang.

Meskipun demikian, ternyata dalam penggunaan warna untuk dinding dapat mempengaruhi psikolog penglihatnya. Sehingga menimbulkan sebuah gejolak terhadap respon dari warna tersebut. Berikut warna-warna yang sering digunakan untuk bangunan namun berpengaruh besar dalam jiwa seseorang.

1. Merah

Telah diketahui bersama jika warna merah termasuk salah satu warna dasar untuk lainnya. Penggunaan warna merah menunjukkan kesan berani entah itu bagi si pemilik ataupun yang melihat bangunan. Meskipun memiliki nilai positif yang tinggi, warna ini merah ini memberikan efek panas walaupun di luar cuacanya dingin. Sehingga sangat tidak disarankan untuk penggunaan warna merah pada ruang-ruang yang biasa tempat berkumpul. Misalnya, ruang tamu, ruang keluarga, ruang rapat, dan sebagainya.

Dalam penggunaan warna merah ini, meskipun hanya satu garis saja pada suatu ruang, kesan yang ditimbulkannya sangatlah besar. Warna merah ini sangat mencolok meskipun terdapat warna cerah lainnya. Hal ini sangatlah bagus sehingga memberikan kesan positif yang besar ketimbang memberikan warna merah pada keseluruhan ruangan.

2. Kuning

Warna yang memberikan kesan hangat ini kerap kali menjadi salah satu warna yang mencolok (tidak semencolok merah) dan juga warna pokok. Termasuk untuk kerabat dekatnya, orange, warna ini memberikan kesan yang hangat serta ceria layaknya matahari pagi dan senja.

Penggunaan warna kuning yang terlalu terang memberikan kesan yang berbeda pula. Bahkan mampu membuat silau meskipun berada di dalam ruangan. Sama halnya dengan warna merah tadi, warna kuning jika diletakkan segaris memberikan kesan tersendiri serta unik bagi yang melihatnya. Sangat cocok digunakan untuk ruang-ruang yang digunakan pertemuan, seperti ruang rapat, ruang keluarga, ruang tamu, dan sebagainya.

3. Biru

Warna ini menjadikan salah satu warna yang banyak digemari banyak orang. Pasalnya warna ini memberikan kesan tersendiri bagi yang pemilik serta yang melihat bangunan itu sendiri. Warna biru sering terlihat ketika langit bersih tanpa awan atau laut.

Kesan dingin yang ditimbulkannya membuat jiwa terasa nyaman. Selain itu bisa menyugesti pikiran untuk tetap tenang. Hal ini sangat cocok digunakan untuk bangsal-bangsal rumah sakit, sehingga pasien merasa nyama dan tidak tertekan saat bersama dokter di sampingnya. Selain itu penggunaan warna biru ini bagus untu kamar tidur. Meskipun di luar sedang terik, dengan warna biru bisa memberikan kesan dingin. Semakin gelap penggunaan warna biru, semakin dingin pula kesan yang ditimbulkan.

4. Hijau

Kenapa warna hijau di nomor empatkan? Di letakkan di bawah warna biru? Karena ini berdasarkan warna dasar dahulu bukan dari urutan warna pelangi.

Meskipun dalam spektrum warna, hijau dengan biru berdekatan, efek yang ditimbulkan saat melihat warna ini berbeda. Tidak sama dengan warna orange dan kuning yang secara memiliki sifat yang sama meskipun jenisnya berbeda.

Warna hijau memberikan kesan sejuk seperti saat melihat dedaunan. Bahkan warna hijau ini sangat mudah dijumpai entah itu dari tumbuhan atau benda-benda berwarna hijau. Penggunaan warna hijau sendiri sangat cocok untuk digunakan pada kamar tidur. Atau pada tempat yang memiliki banyak aktivitas seperti ruang keluarga dan ruang tamu.

5. Ungu

Warna ini sedikit sekali diaplikasikan, namun sekali digunakan, hasilnya bagus. Pasalnya warna yang cenderung kelam ini menawarkan unsur kemewahan tersendiri. Serta nuansa dingin yang berbeda daripada warna biru. Biasanya lebih dominan digunakan warna ungu gelap. Sedangkang warna ungu terang digunakan untuk ruangan memberikan kesan cerah atau bisa dipadukan keduanya.

Meskipun hanya lima warna yang dikulik, terdapat warna-warna lainnya yang juga memiliki arti dan kesan tersendiri seperti warna coklat, putih, abu-abu, hitam, dan lainnya. Belum juga termasuk penggunaan warna terang gelap serta kontras yang mampu memutar balikkan perasaan dengan hanya melihatnya.

Seperti yang sudah dijelaskan, penggunaan warna untuk sebuah bangunan dikembalikan lagi kepada pemiliknya dan untuk apa bangunan itu digunakan.

Sunday, 5 May 2019

MENGHINDARI RISIKO KECELAKAAN DALAM BEKERJA DENGAN 5 (EH 6 AJA DEH) TIPS JITU

Mengingat seringkali terjadi kecelakaan dalam pekerjaan, hal ini bisa disebabkan oleh human error atau system error.


Sumber gambar dari screen shoot op anime Tokyo Ghoul. 

Dalam pekerjaan apapun, risiko akan kecelakaan tidak dapat dihindari dan hal tersebut sangat lumrah terjadi. Tidak bisa juga dikatakan jika terjadinya kecelakaan dalam bekerja terjadi atas keinginan korban atau orang lain (meskipun bisa ada akibat rasa iri). Sehingga mendapatkan asuransi(?). Hal yang sangat tidak masuk akal jika dilakukan.

Meskipun kebanyakan kecelakaan terjadi secara tidak sengaja dan juga banyak yang tidak ingin hal ini menimpa kepada orang lain. Berikut sedikit saran untuk mengurangi angka terjadinya risiko saat bekerja:

1. Memulai dengan niat dan doa

Tidak dapat dipungkiri jika doa mampu menjadi penangkal akan terjadinya musibah. Selain itu, banyak juga orang percaya (mesti percaya) meminta segala sesuatu itu hanya kepada Tuhan Yang Maha Tahu. Serta dengan niatan mencari nafkah diri atau nafkah keluarga (bagi yang sudah punya keluarga).

Maka dari itu sebelum melakukan apapun saat bekerja, berdoa adalah bagian sangat penting yang tidak dapat dipisahkan. Tidak hanya dalam pekerjaan, kegiatan berdoa ini sangat mambrur jika dilakukan di saat serta di manapun berada.

2. Pastikan alat yang digunakan berfungsi dengan baik

Seperti yang dijelaskan di atas, system error kerap kali menjadi faktor utama dalam terjadinya kecelakaan dalam bekerja. Bahkan berdasarkan data dari kecelakaan yang diakibatkan mesin sebesar.

Ada baiknya, lakukan pengecekan secara rutin terhadap mesin yang digunakan. Pantau setiap pergerakannya, apakah suaranya berubah dari nyaring menjadi serak-serak? Apakah kecepatan mesin yang digunakan berubah menjadi pelan? Atau apakah mesin mendengus kesal akibat melihat orang yang sama setiap harinya? (bagian terakhir tidak diharapkan untuk ditanggapi secara serius).

Jika hal tersebut dilaksanakan dengan benar, kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat minim.

3. Fokus, fokus, dan fokus dalam bekerja

Kurangnya asupan makanan untuk tubuh menjadi faktor terjadinya human error. Pasalnya, tubuh yang tidak ada tenaga diajak secara paksa untuk bekerja. Alhasil, usaha yang dikerahkan tidak maksimal. Selain itu, suplai oksigen (O²) yang dibutuhkan otak tidak dapat memenuhinya. Sehingga, di mana terjadinya kecelakaan dalam bekerja memiliki angka yang sangat tinggi.

Permasalahan ini mudah disiasati dengan mengkonsumsi makan pagi. Entah itu dengan roti, nasi goreng, lontong, pecel, mie goreng, mie ayam, bakso, dan sejenisnya. Sehingga kebutuhan makanan untuk tubuh terpenuhi dengan baik.

Selain dari faktor makanan, beban hidup yang dialami tiap orang juga mempengaruhi kurang konsentrasi dalam bekerja. Hal ini akan berdampak kepada kinerja kerja yang lamban dan memiliki risiko kecelakaan yang besar. Ada baiknya dalam hal ini melakukan kegiatan berdoa sehingga fokus dalam bekerja dapat dilakukan dengan maksimal.

4. Jangan mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan

Menyambung penjabaran dari poin nomor tiga—terpaksa dipisah karena kepanjangan. Telah diketahui bersama jika setiap orang mempunyai permasalahan yang berbeda. Entah itu masalah dalam keluarga, teman, pacar, dan sejenisnya.

Menggabungkan masalah pribadi dengan pekerjaan terkesan tidak professional. Pasalnya, hal ini mengakbitkan hilangnya kesadaran dalam bekerja secara perlahan. Terus mengingat masalah yang terjadi tanpa tahu mesin yang di depannya telah merenggut nyawa.

Ada baiknya sebelum bekerja, mengenai masalah pribadi dan lainnya, ditinggalkan di dalam rumah atau kos. Kalau perlu masalah tersebut dibungkus dengan kresek hitam, lalu dibuang ke tempat sampah.

5. Selalu berbuat baik kepada sesama pekerja serta atasan

Meskipun terdengar tidak masuk akal dan sering diabaikan, faktor ini menjadi penyebab yang umum terjadi dalam kecelakaan bekerja. Biasanya hal ini disebabkan oleh rasa ketidak sukaan terhadap rekan kantor. Berusaha melakukan sabotase dan mutilas terhadap mesin yang akan digunakan oleh target. Lantas mesin tersebut rusak atau nyawa target melayang. Hal yang demikian dapat memancing kemarahan atasan atau keluarnya asuransi (seperti banyak adegan di sinetron).

Terlebih kepada atasan, jangan buat pimpinan kerja merasa jengkel atas tingkah yang selalu membuatnya nenjadi ilfil. Mestinya mampu berbuat baik kepada sesama rekan kerja dan atasan. Misalnya selalu tersenyum (tidak dianjurkan melakukan ini saat sendiri), sering menyapa, yang paling penting memegang disiplin ilmu yang tinggi.

Walaupun begitu, bukankah berbuat baik kepada sesama manusia, hewan, dan tumbuhan (makhluk halus tidak termasuk) merupakan anjuran dalam kitab suci AL-Qur'an?

6. Jangan lupa berdoa

Kenapa berdoa diulang lagi? Karena doa sangatlah penting untuk keselamatan entah itu dalam bekerja, berkendara, dan sejenisnya. Maka dari itu peranan doa dalam hal ini sangatlah penting terlepas dari siapa doa itu diucapkan. Intinya doa itu untuk diri sendiri.

Walaupun tips-tips di atas dilaksanakan dengan baik (siapa tahu melakukan semuanya), tidak juga dapat dipastikan lepas dari risiko dalam bekerja tersebut. Sudah suratan takdir jika terjadi bencana yang menimpa badan diri. Bagian terpentingnya jangan lupa berdoa untuk meminta pertolongan serta keselamatan dalam melakukan apapun (akhirnya doa menjadi hal terpenting dari segalanya).

Saturday, 4 May 2019

PENGGUNAAN MATERIAL BANGUNAN MEMPERNGARUHI USIA BANGUNAN ITU SENDIRI

Setiap bahan bangunan mempunyai perannya masing-masing. Tergantung bagaimana dalam pelaksanaanya. Bagian terpentingnya adalah berlandaskan kepada Standar Nasional Indonesia (SNI).


Sumber gambar dari sini

Mempunyai rumah impian adalah salah satu keinginan banyak orang yang telah membangun rumah tangga. Mulai dari rancangan, desain, hingga pemilihan material bangunan mesti sesuai enggan pilihan. Guna mengurangi perihal pendanaan. Padahal dalam pemilihan bahan bangunan menjadi faktor penting apakah bangunan itu tahan lama atau tidak.

Misalnya antara penggunaan batako dengan batu bata sekilas sama. Fungsinya untuk dinding. Namun, jika di tanya perihal kekuatannya jelas berbeda. Bobot batako lebih ringan daripada batu bata. Ukuran batako yang luas sangat mempermudah dalam pengerjaan dinding. Sehingga waktu yang diperlukan tidak terlalu banyak. Hal ini berbanding terbalik dengan batu bata yang ukurannya kecil dan lama dalam pemasangannya. Lagi pula, harga batako ketimbang lebih murah dibanding batu bata.

Kendati demikian, daya tahan batako tidak terlalu kuat. Hal ini disebabkan oleh bahan dasarnya sendiri. Campuran antara semen dan kerikil tampak rapuh dibandingkan batu bata yang dibuat dari tanah liat. Namun, dalam pembuatan rumah tinggal, terutama kompleks perumahan, batako sangat digemari. Lantaran alasan yang di atas. Sehingga dalam hal ini tidak bisa juga memkasa orang lain menggunakan batu bata agar bangunannya tahan lama.

Masih pada bagian dinding, sedikit bergeser ke arah pengecatannya. Sangat jarang sekali ada rumah yang tidak diberi cat. Selain menjadi hal yang sering diperbincangkan antar tetangga karena warna rumah, hal ini juga bisa menentukan usia bangunan. Pasalnya, tujuan bangunan dicat adalah agar bangunan tidak mudah dimakan rayap (pada bangunan kayu) serta tidak mudahnya tumbuh keluarga di dinding (bangunan dari batu bata atau batako).

Belum lagi banyaknya beragam merk seta jenis cat yang beredar di pasaran membuat pilihan tak terbatas. Entah itu dari kualitas cat, maupun warna untuk mempercantik rumah.

Lantai juga memainkan peran penting dalam suatu bangunan. Bagaimana mungkin tempat berpijaknya orang-orang yang berada di suatu bangunan dibuat secara asal-asalan? Penggunaan materialnya pun disesuaikan dengan fungsi bangunan itu sendiri.

Misalnya saja antara bangunan rumah tinggal dengan bangunan untuk perkantoran memiliki perbedaan. Untuk rumah tinggal, bisa diberi keramik saja. Ada juga rumah tinggal diberi lantai marmer (tergantung anggaran masing-masing). Namun untuk perkantoran tadi, penggunaan keramik serasa kurang tepat. Pasalnya terlalu sederhana, sehingga nanti berakibat kepada penilaian orang-orang terhadp kantor itu sendiri. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga jika sebuah kantor menggunakan lantai keramik.

Lain halnya dengan kuzen serta rangka atap. Memasuki beberapa tahun terakhir, penggunaan kusen dan rangka atap dari bahan baja sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan bisa dibilang bangunan yang didirikan sekarang ini menggunakan bahan dasar baja untuk kuzen serta rangka atap. Pasalnya, bahan baja ini ringan, praktis, serta ramah dikantong. Sehingga kuzen dan rangka atap dari bahan baku kayu mulai ditinggalkan. Lagi pula untuk sekarang ini, kayu sulit didapat dengan harga murah.

Perlu diketahui, jika untuk kuzen dan rangka atap dari bahan baku baja mesti disesuaikan dengan kondisi sekitar. Misalnya, pada daerah dataran rendah, penggunaan bahan baku baja dirasa sangat tepat. Menimbang daerah dataran rendah sukar mendapatkan kayu. Meskipun ada, belum tentu harganya sesuai dengan anggaran yang ada. Selain itu, baja menambah kesan mewah serta terasa sejuk.

Hal ini berbanding terbalik dengan bangunan untuk daerah dataran tinggi. Penggunaan bahan dasar baja untuk kuzen dan rangka atap sah-sah saja. Namun, perlu diperhatikan jika baja bersifat ringan sehingga menjadi suatu momok yang mesti dipikir kwmbali6. Pasalnya, daerah dataran tinggi terkenal akan anginnya yang kencang (tergantung kepada siklus di suatu tempat). Kemungkinan terburuknya adalah atap dibawa terbang oleh angin disebabkan kuda-kuda dari bahan baja tidak terlalu kuat. Sehingga menimbulkan kerugian dibalik hal ini.

Pada akhirnya, untuk penggunaan material bahan bangunan dikembalikan kepada pemilik serta perencananya sendiri. Tapi, jika sedikit saja ingin menggunakan material yang sekiranya awet (untuk bangunan yang akan didirikan), hal ini sangatlah bagus. Tidak masalah jika harganya mahal sedikit. Toh, kekuatan bangunan itu terjaga bahkan memiliki usia yang panjang daripada bangunan yang memilih material seadanya. Bukannya tahan lama, bangunan tersebut cepat hancur dan mengalami kerugian yang besar akibat abai dengan material bangunan. Perlu diingat jika tulisan ini mencakup semua material yang ada dibutuhkan bangunan itu sendiri. Meskipun demikian, material yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sangatlah dianjurkan.

Saturday, 27 April 2019

TEKNIK SIPIL TIDAK MENDALAMI MENGENAI ARSITEKTUR DAN JUGA TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

Memang benar jika bidang teknik sipil berkaitan perihal merancang dan membangun suatu bangunan. Sebuah kesalah pahaman jika bidang teknik sipil disamakan dengan bidang arsitektur. Terlebih lagi dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS).




Sumber gambar dari sini, sini, dan sini

“Sekarang kuliah di mana, Dik?“

“Kuliah di *** (nama universitas), Om.“

“Ambil jurusan apa?“

“Teknik sipil, Om.“

“Ooo, nanti setelah lulus mau jadi PNS, ya?“

Atau

“Kamu anak sipil, kan?“

“Iya, kenapa?“

“Bisa minta tolong nggak buatin gambar rancangan rumah. Pakai desain ala rumah Eropa. Terus di bagian jendelanya pakai banyak lengkungan. Lalu pintunya besar-besar. O iya, jangan lupa nanti untuk lantainya pakai marmer dari timur tengah gitu. Dan seterusnya.“

Bagi kebanyakan orang, terjebak dalam percakapan di atas (entah satu atau dua) seringlah terjadi. Apakah itu mendengar dari pengalaman orang maupun terjadi di depan mata kepala sendiri.

Untuk orang awam, istilah sipil berarti berkenaan dengan rakyat, masyarakat, dan seragamnya. Bagian terpentingnya tidak termasuk anggota TNI. Namun, jika dibawa ke dalam ilmu teknik sipil sangat berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil.

Dalam ilmu teknik sipil, mencakup ilmu hitung, ilmu gaya, dan ilmu alam. Secara, ketiga hal itu sangat bersebrangan, namun memiliki kaitan erat tentang teknik sipil itu sendiri. (Untuk lebih jelasnya klik di sini)

Berbanding terbalik dengan Pegawai Negeri Sipil yang lebih menekankan kepada bidang surat menyurat. Bekerja di bawah naungan pemerintahan. Itu pun untuk masuk ke sana mesti melewati tes. Belum lagi banyaknya pesaing menyulitkan untuk lolos.

Meskipun pada kenyataannya Pegawai Negeri Sipil ada juga dari orang-orang teknik sipil. Tapi, tujuan utama dari teknik sipil bukanlah menjadi pegawai pemerintahan. Menjalankan roda pembangunan negara untuk mencapai kemakmuran.

Lain hal jika teknik sipil disamakan dengan arsitektur. Dalam teknik sipil, hal-hal yang mengenai desain tidak didalami secara maksimal seperti di arsitektur. Perlu digaris bawahi jika kata 'tidak' bukan berarti tidak mempelajarinya sama sekali. Karena dalam teknik sipil, perihal struktur bangunan sangatlah diperhatikan dibandingkan desain.

Hal demikian sedikit berlawanan dengan arsitektur. Dimana, dalam arsitektur sangat menonjolkan perihal desain. Bahkan mampu membedakan gaya bangunan victoria dengan vintage (jika dilihat sekilas, terlihat sama) secara terperinci. Namun, dalam struktur sedikit abai. Sama halnya dalam taknik sipil, dalam arsitektur juga mempelajari mengenai struktur bangunan, tapi tidak dipelajari secara mendalam.

Dalam pelaksanaannya, teknik sipil dengan arsitektur bekerja sama dalam merancang bangunan. Memperhatikan struktur dan desainnya bersamaan. Kadang kala, hal ini hanya dilakukan oleh satu orang yang paham akan struktur dan desain. Dengan catatan sudah berpengalaman.

Antara teknik sipil dengan arsitektur terkesan mudah. Namun, dalam pengaplikasiannya sedikit bertentangan.

Miasalnya saat merancang suatu bangunan. Bagi orang teknik sipil, segala aspek sangat berpengaruh kepada bangunan tersebut. Bagaimana kondisi tanahnya, keras, lunak, atau lembek? Jika bangunan yang diinginkan memiliki lantai lebih 20, apakah kondisi wilayah seperti ini cocok? Belum lagi memperhatikan lingkungan sekitar, ramai atau sepi? Bagian terpentingnya adalah bangunan ini ditujukan kepada siapa dan untuk apa?

Lain hal dalam arsitektur. Apa yang terjadi di atas tidak menjadi perhatiannya (kecuali tentang kepada siapa dan untuk apa bangunan tersebut). Karena, dalam mendesain bangunan untuk perkantoran dengan rumah sakit itu berbeda sekali. Belum lagi, dalam hal desain menjadi tolak ukur akan berapa banyak orang yang tertarik untuk datang ke bangunan tersebut.

Selain daripada itu, dalam teknik sipil menuntut orang-orang di sana paham akan perihal hitung-hitungan, serta logika yang masuk akal berdasarkan data yang ada. Sedangkan, arsitektur lebih menonjolkan akan imajinasi tentang bagaimana desain yang dirancang sesuai dengan tujuan bangunan tersebut didirikan.

Pada akhirnya, antara teknik sipil dan arsitektur, walaupun sama-sama membahas perihal bangunan, namun cakupannya berbeda. Terlebih lagi antara teknik sipil dengan Pegawai Negeri Sipil. Boleh dibilang tidak ada hubungannya sama sekali.

Meskipun, hal tersebut sudah bisa diperkirakan memiliki makna yang berbeda (antara teknik sipil dan PNS). Masih ada saja yang terjebak perihal hal tersebut.

“Teknik sipil ini ngapain, sih? Tiap hari ngitung mulu.“

“Merancang dan membangun sebuah bangunan.“

“Lah, aku kira nanti akan jadi PNS. Berarti selama ini aku salah jurusan?“

Telan paksa paku beton. Kalau begini tersesatnya sungguh terlalu, Kawan.

Friday, 26 April 2019

PERIHAL KETAHANAN MAUPUN KEKUATAN MENJADI FAKTOR UTAMA DALAM MERANCANG BANGUNAN

Sebenarnya daya kekuatan suatu bangunan sangatlah diperhatikan. Sayangnya, sekarang ini hal itu menjadi terabaikan karena lebih berfokus kepada desain.



Sumber gambar dari sini (sebenarnya dari screenshot anime Fate/Zero) 


Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia sangat konsumtif mengenai pembangunan untuk infrastruktur negara. Guna memakmurkan rakyat sekaligus menaikkan ekonomi masyarakat. Banyaknya bangunan yang berdiri berusaha mengikuti perkembangan desain saat ini. Bangunan bergaya minimalis masih mendominasi untuk saat ini.

Apakah bangunan tersebut mempunyai kekuatan dan ketahanan yang dapat berdiri hingga lama layaknya bangunan zaman penjajahan?

Kembali lagi darimana sumber bangunanya. Dalam artian sempitnya, materi yang digunakan berkualitas tinggi sesuai dengan anjuran Standar Nasional Indonesia (SNI). Misalnya satu kubik batu kali untuk pondasi sangat berperan penting apakah pondasi itu dapat bertahan lama atau tidak.

SNI telah dirancang sedemikian rupa supaya apapun bangunan yang hendak didirikan mampu bertahan lama, meskipun dengan material yang tak banyak. Kendati demikian, kecurangan saat pengerjaan lapangan sering kali terjadi. Terlebih kepada proyek pembangunan dalam skala besar. Penyelewangan sangat mudah terjadi.

Sebagai contoh adalah kasus Proyek Hambalang yang sayangnya mesti berhenti di tengah jalan. Perihal pendanaan yang membengkak dari 125 miliyar menjadi 2,5 triliun menjadi hal yang patut dipertanyakan. Pada tahun 2003 hingga 2006, dana sebanyak itu sudah termasuk besar untuk membangun gedung olahraga yang bagus. Sayangnya, orang di balik itu semua mesti ditangkap perihal penyelewangan dana. Meskipun hanya dana, itu sangat berpengaruh kepada kualitas bangunan yang dihasilkan.

Contoh lainnya jembatan penghubung sungai di Kutai yang ambruk setelah beberapa tahun berdiri. Bisa dkbilang bangunan zaman penjajahan masih kokoh dibandingkan jembatan itu. Setelah diusut terjadi penyelewangan dalam hal material. Seharusnya menggunakan bahan yang berkualitas bagus diganti dengan bahan-bahan untuk membangun rumah. Meskipun sama-sama material bangunan, tentunya dalam pelaksanaan di lapangan sangat berbeda antara material untuk jembatan dan rumah. Akibatnya, jembatan yang dibangun tidak mempunyai kekuatan dan ketahanan yang cukup atas bencana alam. Kasus ditutup dengan ditangkapnya orang-orang yang bertanggung jawab dalam proyek jembatan. Selain itu, korban jiwa akibat peristiwa ini tidaklah sedikit. Tentu saja itu membuat banyak orang menuntut karena infrastruktur tidak bertahan lama.

Kerugian semakin membengkak ketika proyek-proyek berskala besar (seperti contoh di atas) dipermainkan oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadi. Sehingga berakibat kepada kemakmuran negara Indonesia yang berjalan sangat lambat. Hanya berfokus kepada pembangunan infrastruktur tanpa peduli ketahanan bangunan karena dana untuk membeli material diambil.

Dalam pembangunan skala kecil, penyelewangan ini seakan tidak ada habisnya. Misalnya dalam pembangunan rumah dua tingkat, galian pondasi yang direncanakan adalah dua meter (mengingat kondisi tanah bagus). Namun, fakta yang ada di lapangan berbeda. Para pekerja hanya membuat galian pondasi sedalam satu meter. Hal itu sama saja digunakan untuk bangunan satu tingkat. Pada akhirnya jika terjadi bencana rumah itu tidak akan tahan lama, karena sejak dari awal pembangunannya tidak mematuhi aturan.

Belum lagi akhir-akhir ini infrastruktur yang dibangun hanya berfokus kepada hal desain. Apapun hasilnya mesti terlihat modern. Tidak peduli apakah bangunan itu tahan lama atau tidak. Apabila hal ini diperburuk dengan penyelewangan dana, berakhir sudah bangunan itu. Hal ini diperparah jika bangunan tadi di periksa oleh Dinas Pekerjaan Umum. Jika terbukti gambar yang direncanakan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, akan bermasalah kepada pelaksana pembangunan tersebut

Berbicara mengenai desain, dalam hal ini struktur bangunan tidaklah diperhatikan. Karena hanya berfokus bagaimana membuat bangunan tersebut terlihat bagus. Meskipun demikian antara desain dan struktur bangunan mesti diselaraskan, supaya terwujud bangunan yang mempunyai kekuatan dan ketahanan serta desain menawan.

Wednesday, 24 April 2019

DESAIN RUMAH TERBAIK ADALAH KETIKA SESUAI KEINGINAN DI HATI DENGAN YANG DIPIKIRKAN

Desain rumah akan selalu mengikuti tren yang ada, namun ada beberapa desain rumah yang senantiasa awet. Hal tersebut kembali kepada masing-masing pemilik hunian itu sendiri.



Sumber gambar dari sini


Keindahan adalah salah satu faktor untuk menunjukkan eksintensi terhadap sebuah bangunan. Sering kali, hal ini sangat menjadi pusat perhatian, lalu mengesampingkan kekuatan dari bangunan itu sendiri. Ini bisa menjadi masalah yang besar. Mana tahu bangunan yang bagus itu tidak memiliki daya tahan yang baik.

Dalam desain rumah itu sendiri, ada beberapa aspek yang diperhatikan. Mulai dari kultur budaya, keinginan (selera) pemilik, hingga trend desain rumah yang sedang berkembang. Tidak menutup kemungkinan jika desain minimalis yang tengah marak saat ini akan mampu bertahan dengan lama. Pasalnya, desain minimalis mengusung desain yang sederhana, simple, namun tetap elegan jika diaplikasikan kepada bangunan. Terlebih lagi mampu menghemat pengeluaran dana.

Desain minimalis sendiri awalnya berkembang di luar negara Indonesia. Baru beberapa tahun belakangan, semakin banyak minat masyarakat untuk menggunakan desain ini. Tapi, tak ayal jika ada beberapa desain rumah lain yang masih bertahan hingga sekarang.

Contohnya saja desain rumah vintage. Meskipun sekarang ini sangat jarang menemukan bangunan baru dengan gaya seperti ini, namun desain vintage masih bertahan. Pasalnya, terdapat ornament-ornament yang rumit tapi unik untuk dijadikan hiasan bangunan. Selain itu, perletakkan jendela yang sedikit menyempit namun elegan menjadi salah satu ciri khas dari desain rumah ini.

Meskipun demikian, desain rumah yang mengusung gaya vintage lengang peminat. Pembuatan ornament yang menyulitkan membuat orang-orang berpikir dua kali. Belum lagi perubahan gaya desain pada rumah untuk diganti minimalis menjadi vintage sangat berlawanan. Jangan lupakan perihal dana yang tidak sedikit jika menggunakan desain vintage ini.

Lain hal dari yang di atas, ada beberapa bangunan yang hanya fokus kepada desain dibandingkan bangunan itu sendiri. Hal ini mengakibatkan beberapa aspek (seperti kekuatan, ketahanan) menjadi abai. Sehingga bangunan yang bagus itu tidak bertahan lama jika ada bencana alam yang datang.

Meskipun mendesain bangunan terkesan mudah, namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:

1. Kenyamanan
Desain suatu bangunan sangat berpengaruh kepada kenyaman psikologi seseorang. Misalnya saja saat seseorang berkunjung ke bangunan bergaya vintage, auta keeropaannya begitu kental. Terlebih gaya vintage mengusung kemewahan. Hal ini berbanding terbalik jika berkunjung ke bangunan minmalis. Kesan lapang lebih kental terasa.

2. Corak budaya
Sebuah bangunan akan sangat berpengaruh untuk identitas dari tempat itu sendiri. Misalnya saja saat semua bangunan di suatu wilayah masih mempertahankan rumah dengan gaya panggung. Bahkan tidak ada rumah yang terbuat dari batu bata. Tidak menutup kemungkinan jika tempat tersebut akan berganti nama mengikuti nama bangunan tersebut.

3. Keinginan pemilik bangunan
Hal ini sangatlah begitu krusial, selain menimbang perihal dana. Pasalnya, selera setiap orang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tak ayal, dalam mendesain rumah akan ada satu desain bangunan yang terlihat berbeda, namun sesuai dengan keinginan sang pemilik. Misalnya saja seperti sekarang ini desain bangunan dengan gaya minimalis begitu menjamur, tapi ada beberapa orang memutuskan membangun rumah dengan desain yang berbeda sesuai keinginannya.

Dalam perkembangan desain bangunan, kepopuleran dari salah satu gaya bangunan sangat berperan penting. Namun, hal ini tidak bisa menjadi faktor yang begitu kuat. Pasalnya, untuk sebuah desain bangunan itu dikembalikan kepada individu masing-masing.

Terkecuali pada bangunan yang ada di kompleks perumahan. Di sana, sudah diatur sedemikian rupa agar rumah asli terlihat sama dengan yang lainnya. Mulai dari penempatan ruang, interior (bagian dalam rumah), hingga eksterior (bagian luar rumah). Hal ini sangat berpengaruh kepada anggaran bisnis untuk kompleks perumahan. Meskipun demikian, ada beberapa orang yang berusaha memodifikasi sesuai keinginannya sendiri.

Semua itu dikembalikan kepada keinginan masing-masing. Mewujudkan rumah impian dengan desain bangunan yang sesuai keinginan.

Tuesday, 23 April 2019

MEMBANGUN/MENCARI RUMAH BUKAN DISEBABKAN OLEH GENGSI, TAPI KARENA MEMBUTUHKAN TEMPAT TINGGAL ITU SENDIRI

Hunian rumah tinggal adalah salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Namun, membangun rumah sendiri terdapat satu kepuasan yang tak terkira.



Gambar milik pribadi. 

Bicara mengenai rumah, tak akan bisa lepas dari perkembangan jumlah umat manusia pada sekarang ini. Pasalnya, semakin banyak manusia di atas bumi, permintaan akan hunian rumah tinggal sangat meningkat. Sehingga untuk membangun rumah sendiri sangatlah susah, menimbang lahan yang sangat langka.

Kompleks perumahan bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan di atas. Mencari tempat tinggal yang layak sekaligus dengan desain rumah terdepan. Perihal harga, menyesuaikan dengan lokasi perumahan, apakah berada di tengah atau pinggir kota. Semakin luas ukuran rumah, semakin banyak pula dana yang mesti dikeluarkan. Terlebih lagi, hal ini juga sangat mencolok dari segi desain, secara menarik minat pembeli.

Kendati terlihat sangat mudah, sebenarnya terdapat beberapa skema panjang agar perwujudan rumah impian di perumahan tidak berujung penggusuran. Pasalnya, untuk menghuni salah satu rumah di kompleks perumahan, mesti mempunyai perencanaan perihal biaya yang sangat matang. Bagaimana angsuran tiap bulanannya. Apakah sesuai dengan fasilitas yang ada. Terlebih pada lokasi perumahan, sangat berbeda perumahan di tengah dengan pinggiran kota.

Belum lagi mematuk seberapa jauh jarak kompleks perumahan dengan tempat kerja, pasar, sekolah, rumah sakit, dan hal yang dirasa perlu lainnya. Jangan sampai berakhir dengan kepusingan tujuh keliling karena mempunyai rumah yang sangat jauh, sehingga memakan waktu yang lama di perjalanan.

Upaya di atas tidaklah cukup jika gengsi yang akan menjadi landasan utama untuk menghuni kompleks perumahan. Meskipun dengan desain rumah yang sangat menawan dan kekinian, belum tentu ada kebahgiaan di sana. Pasalnya, jika hanya ingin menunjukkan bahwasannya rumah yang ditempati sangatlah bagus, belum tentu orang yang membicarkan hal itu dapat tersenyum puas. Pada akhirnya, rumah yang didiami berubah fungsi dari tempat tinggal menjadi tempat mencari pujian.

Ditilik dari perihal dana, hal ini sangat membutuhkan perhatian ekstra. Pasalnya, mengatur keuangan untuk biaya angsuran dengan keperluan lainnya terkesan mudah, namun sulit untuk diterapkan. Belum lagi jika penghasilan hanya dihabiskan untuk hura-hura tanpa memikir tanggung jawab kepada rumah yang didiami hanya karena sebuah gengsi. Tidak menutup jika pihak perumahan akan melakukan penggusuran dan pemilik rumah akan berurai air mata.

Lantas apakah beda dengan membangun rumah sendiri?

Sekiranya sama saja, namun ada kepuasan sendiri jika uang hasil keringat dapat menghasilkan tempat tinggal sendiri.

Hal ini dapat dilihat beberapa faktor. Apakah membuat rumah di atas tanah milik harta warisan? Jika iya, tidak perlu memusingkan akan anggaran pembelian tanah. Seandainya tidak memiliki tanah? Bisa, tapi mesti membeli tanah. Lalu timbul lagi pertanyaan, apakah tanah itu berlokasi di tengah atau pinggiran kota? Jika berada di tengah kota, sudah dipastikan jika harga tanah bisa melebihi harga materi dari rumah itu sendiri dan berbanding terbalik jika berada di pinggiran kota. Namun banyak juga yang membangun rumah di tengah kota.

Membangun rumah sendiri sangatlah berbeda dengan kompleks perumahan. Pasalnya, di sana terdapat wujud rasa cinta untuk membangun istana milik sendiri, meskipun hanya sederhana. Mewujudkan angan-angan perihal rumah impian yang diidamkan. Belum lagi biaya akan materi bangunan bisa ditekankan, namun memiliki kualitas yang bagus. Terlebih lagi kepada desain rumah yang bisa dirancang sendiri.

Beberapa bulan kemarin sempat santer tentang rumah dengan luas tanah yang hanya sedikit, namun dapat menampung orang serta barang yang berharga. Hal itu dapat dijadikan contoh perihal solusi membangun rumah idaman dengan melawan harga tanah yang semakin naik dan merancang desain yang unik.

Pada akhirnya, mendiami kompleks perumahan dengan membangun rumah sendiri tidak ada yang salah di antara dua hal tersebut. Kembali kepada diri sendiri, apakah membangun rumah untuk tempat tinggal atau mencari gengsi yang akan berujung pada meruntuhkan rumah itu sendiri.

Wednesday, 10 April 2019

DISKRIMINASI HANYA DILAKUKAN OLEH PARA GOLONGAN (BUKAN) MANUSIA

Dalam sebuah kasus kejahatan, seorang yang mengaku salah adalah manusia yang masih punya hati.




Sumber gambar dari sini



Mari sejenak kita tinggalkan sejenak perihal pilihan pemimpin negara. Semoga saja tulisan ini tidak menyerempet ke arah sana

#JusticeforAudrey menjadi hastag populer belakangan jam terakhir. Pasalnya, gadis yang menginjak bangku SMP menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh siswi SMA.

Sudah menjadi rahasia umum jika kekerasan sangatlah tidak terbatas di negeri ini. Dalam menelaah kejadian tersebut, siapakah yang mesti disalahkan? Pelaku? Korban? Atau saksi mata yang hanya menonton tanpa ada tergerak norma kehidupan mengenai perdamaian?

Pembullyan di Indonesia tidak hanya sekali ini terjadi. Boleh dibilang, jika kata kerja ini telah menyebabkan korbannya terluka secara fisik, batin, mental, serta kejiwaannya. Bahkan cara ini lebih buruk dibandingkan membunuh korban secara langsung. Korban pembulyan disiksa dari berbagai arah sehingga menimbulkan efek yang sangat parah. Tidak ada semangat hidup lagi selain membalaskan bully kepada orang lain. Tak ayal, bunuh diri juga sangat digemari lantaran pembulyan masih berlanjut kepada korban.

Dilansir dari situs-situs terkemuka, akar permasalahan dari kasus buly ini adalah perihal asmara (apakah berita itu benar atau tidak). Entah bagaimana hal ini bisa berkaitan dengan siswi-siswi SMA yang secara lebih sedikit matang, namun malah melakukan hal yang kekanak-kanakan. Menghancurkan segala sesuatu jika kehendaknya tak terpenuhi.

Petisi-petisi berupa tanda tangan untuk korban banyak bertebaran di sosial media. Mulai dari whatsapp, facebook, twiter, hingga instagram. Esai maupun artikel mengenai kasus ini banyak mencuat di antara portal berita politik.

Kendati demikian, hal itu tidak membuat serta merta pembulyan akan berakhir di sini. Tapi, setidaknya dapat memberi tahu jika hal tersebut sangatlah tidak baik. Entah itu bagi pelaku sendiri atau terlebih pada korban.

Belum lagi korban diskriminasi datang dari para pendukung capres entah itu paslon 1 atau 2. Meskipun berita ini kalah tenar dengan kasus gadis SMP, tapi tidak bisa menutup mata jika diskriminasi masih berlaku di negara ini.

Sebelum hal itu tampak terang-terangan, pembulyan awalnya dimulai dari ketidak sukaan seorang pendukung terhadap capres lain. Tak terima direndahkan, pembulyan terus berlanjut hingga baku hantam. Bahkan tak jarang orang satu rumah sama-sama mendiskriminasi anggota keluarganya sendiri. Siapa yang mesti disalahkan?

Dalam kasus Audrey, kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA terdengar sangat tidak wajar. Pasalnya bagaimana mungkin orang usia 17 tahun (secara sudah bisa berpikir maju) dengan sangat ringan tangan menghajar orang usia 14 tahun?

Pembullyan berada sangat dekat di sekitar. Bisa saja orang di samping adalah pelaku atau korban. Bahkan bisa saja pelakunya adalah diri sendiri. Semua tidak akan terjadi jika akal pikiran diletakkan pada urutan teratas daripada perasaan yang mesti mengambil tindakan.

Pada berbagai kesempatan—selain kasus pembulyan kali ini—sering kali hasrat mampu mengalahkan otak. Mencoba merecoki sehingga kekerasan terkesan sangatlah baik guna mencapai tujuan yang tidak jelas. Tak jarang hal itu berujung kepada terenggutnya nyawa korban.

Memaknai manusia yang tidak sempurna, kesalahan acap kali terjadi. Entah secara sengaja atau tidak, semua itu tak terlepas atas kontrol emosi. Bagaimana mungkin membunuh seseorang dapat dikatakan sebuah kekhilafan?

Kendati demikian, manusia tetaplah manusia. Kesalahan akan terus berlanjut, namun tidak mungkin pembullyan ini bisa dihentikan. Cara paling ampuh adalah dengan membuat jera para pelaku pembulyan sehingga calon pelaku tidak tergerak untuk melakukan pembullyan. Hukuman yang setimpal sangat dibutuhkan guna menegakkan hukum untuk kasus-kasus lainnya. Mungkin bisa belajar kepada negara tetangga perihal masalah ini—bukan pendidikan serta ilmu lainnya yang mesti dicontoh.

Meskipun manusia adalah gudangnya kesalahan, tapi jika perihal perasaan sangatlah peka. Bahkan hal ini melatar belakangi kasus Audrey. Meskipun demikian, bagian terpentingnya adalah manusia yang mempunyai hati adalah yang merasa salah jika dirinya berbuat kesalahan.

Friday, 5 April 2019

TAK SELAMANYA HUJAN MEMBAHAS TENTANG KENANGAN

Maraknya praktek jatuh cinta membuat sebagian kalangan manusia lupa akan wujud sebenarnya dari hujan itu sendiri.


Sumber gambar dari: https://wall.alphacoders.com

Telah diketahui bersama bahkan sudah tidak menjadi rahasia umum jika air adalah sumber kehidupan. Dalam kitab suci Al-qur`an telah dijelaskan bahwasannya penciptaan manusia berasal dari air.

Pada kehidupan sehari-hari air sangatlah dibutuhkan. Mencuci perlu air. Memasak perlu air. Mandi perlu air. Membangun rumah perlu air. Termasuk perihal kenangan dengan mantan. Eh?

Sejatinya air bisa menjadi pemersatu bangsa (saat berbagi minuman kepada sesama makhluk hidup). Bisa menjadi pemecah belah (contohnya perang Palestina dengan Israel, umumnya terjadi di negeri Timur Tengah). Bisa menjadi kebahagian tersendiri (saat menikmati rinai). Atau menjadi sebuah malapetaka (banjir).

Berbicara mengenai hujan, dalam proses pembentukannya sangatlah sederhana. Secara singkatnya melalui proses penguapan, lalu menggumpal menjadi awan, lantas bersatu bersama awan-awan yang lain, bertemu dengan angin, untuk kemudian berubah menjadi hujan.

Proses yang tidak memakan waktu banyak. Tapi jika ditilik untuk daerah padang pasir (misalnya wilayah benua Afrika), hal di atas tidak serta merta terwujud seperti simsalabim. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah semestinya siklus hujan itu sebentar?

Di Indonesia sendiri, proses terjadinya hujan dibedakan atas tiga pola:

1. Pola curah hujan monsun

Pola curah hujan ini yang memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan). Maksudnya, hujan terjadi pada bulan-bulan tertentu yaitu pada bulan Juni, Juli dan Agustus akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan kering (musim kemarau), sedangkan pada bulan Desember, Januari, dan Februari akan terjadi pergantian musim yang disebut dengan bulan basah (musim hujan).

Kemudian untuk sisa enam bulan lainnya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan dan tiga bulan peralihan musim hujan ke musim kemarau).

Daerah yang didominasi curah hujan monsun adalah: Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa, Nusa Tenggara bagian Papua, Bali, dan Sumatera bagian Selatan.

2. Pola curah hujan ekuatorial

Pola curah hujan ekuatorial memiliki ciri-ciri yang bersifat bimodial (dua puncak hujan). Berbeda dengan pola curah hujan monsun yang unmodial. Terjadi pada bulan-bulan tertentu, yakni pada bulan Maret dan Oktober pada saat terjadi equinox (fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa). Biasanya daerah yang didominasi dengan curah hujan ekuatorial adalah pulau Kalimantan bagian Utara dan pulau Sumatera bagian Tengah dan Utara.

3. Pola curah hujan lokal

Pola curah hujan ini dipengaruhi oleh faktor wilayah tersebut. Sama halnya dengan pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal memiliki ciri-ciri yang bersifat unimodial (satu puncak hujan). Namun, meskipun sekilas sama seperti pola curah hujan monsun, pola curah hujan lokal berlawanan dengan pola curah hujan monsun. Sehingga puncak musim hujan berlangsung pada pertengahan tahun. Wilayah yang di dominasi dengan curah hujan lokal adalah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Dari hal di atas, jelas Indonesia sendiri memiliki ragam jenis pola curah hujan bukan hanya masalah cinta yang beragam. Selain itu, faktor wilayah sangat berpengaruh apakah daerah tersebut akan mengalami pola curah hujan monsun, ekuatorial, atau lokal.

Lantas apakah di padang pasir tidak akan pernah hujan lantaran daerah di sana sangat sulut menemukan keberadaan air?

Berpatokan kepada proses terjadinya hujan pada bagian penguapan, hal itu sedikit di luar nalar. Biasanya penguapan terjadi pada daerah yang relatif memiliki banyak air. Namun pada wilayah padang pasir, hujan dipengaruhi oleh faktor angin. Hal ini merupakan faktor dari siklus hujan panjang.

Setelah terjadinya pembentukan awan, tak serta merta hujan akan turun. Bahkan kebanyakan awan didorong oleh angin untuk ke wilayah tertentu (ini dipengaruhi oleh arah pergerakannya). Jika awan tersebut telah mempunyai kadar air yang banyak, bisa disimpulkan hujan akan turun di daerah tersebut. Tak terkecuali di daerah padang pasir.

Pada sebagian besar wilayah Indonesia sendiri, pada rentang bulan April-September bisa sedikit berbahagia, pasalnya hujan tidak turun secara intens seperti musim hujan (selain pesta politik yang puncaknya bulan April). Tapi tidak menutup kemungkinan hujan akan turun di saat matahari tengah teriknya dan lupa membawa payung, hal itu yang membuat bisa terkenang akan mantan beserta hal lainnya. Eh?

Tuesday, 2 April 2019

KETIKA BANGUNAN PENJAJAHAN LEBIH AWET DIBANDINGKAN BANGUNAN MILENIAL

Faktor ketahanan suatu bangunan gedung sangat berpengaruh untuk kemaslahatan manusia ke depannya.


Sebagai negara berkembang, Indonesia sangatlah gencar untuk melaksanakan pembangunan guna menuju era kemajuan seperti negara tetangga. Dalam beberapa aspek, hal ini sangat dikhususkan seperti sarana jalan. Berdasarkan portal berita online Detik.com, tercatat selama kurun waktu 2014-2018 terjadi pembangunan jalan sepanjang 3432 km jalan nasional dan 941 km kalan tol.

Kendati angka-angka tersebut sangatlah berkembang jauh dari era pemerintahan sebelumnya, apakah jalan-jalan itu dapat tahan lama layaknya bangunan museum Fatihillah di Kota Tua?

Seperti yang diketahui bersama, proyek pembangunan jalan (apalagi mempunyai rentang yang panjang dan medan cukup sulit) bukanlah pekerjaan yang dapat dihabiskan dalam waktu singkat. Survey lokas, pembebasan lahan, perenacanaan, lama pengerjaan, dan sebagainya. Kesemua itu bukanlah perkara seperti berbicara.

Bahkan saat berada di lapangan, terkadang hal-hal di atas sangat berbeda dengan aslinya. Belum lagi akhir-akhir ini marak kasus korupsi akibat penyelewangan dana untuk pembangunan infrastruktur negara. Sehingga bahan-bahan yang digunakan dalam perenacanaan tidak terlaksana dengan baik. Akibatnya, bangunan tersebut kekurangan daya tahannya. Jika terjadi bencana alam hanya menghitung waktu bangunan itu hancur.

Lantas siapa yang mesti disalahkan? Tukang? Arsitek? Lokasi? Atau Tuhan yang telah mengirimkan bencana alam?

Ok, kembali kepada judul.

Sebagaimana yang telah diketahui, negeri kincir angin menjajah Indonesia sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Selama lebih kurang 350 tahun, Belanda tidak hanya menjarah hasil bumi, namun ada beberapa meninggalkan bangunannya (meskipun lebih banyak duka).

Jika diperhatikan, bangunan peninggalan di masa penjajahan bisa dibilang memiliki kekuatan yang bagus. Selain daripada itu, desain-desainnya begitu memukau. Bahkan menjadi trend untuk bangunan setelah zaman penjajahan. Sebut saja Jam Gadang, Museum Fatihillah, Lewang Sewu, dan lain-lain.

Bangunan zaman penjajahan juga mempunyai aturan tersendiri (layaknya SNI), sehingga dalam pelaksanaannya terwujud sesuai dengan harapan. Mengutamakan kekuatan daripada keindahan bangunan itu sendiri.

Banyaknya angka infrastruktur hancur akibat bencana alam sangatlah memprihatinkan. Pasalnya, umur bangunan itu belumlah mencapai angka 20 tahun.

Selain dalam hal desain, faktor ketahanan bangunan sangatlah berbeda. Sayangnya, beberapa tahun belakangan keindahan suatu bangunan sangat diperhatikan, bahkan diistimewakan. Akibatnya, struktur menjadi abai. Hal itulah yang membuat bangunan menjadi tidak kuat. Lantas pembengkakan utang negara untuk pembangunan kian besar.

Menilik dari Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap ketentuan bahan-bahan bangunan, jika dijalankan dengan baik, infrastruktur yang dibangun akan terjamin kualitasnya. Tak asing lagi jika kebanyakan pekerja berusaha menggunakan material semurah mungkin, sehingga pengeluaran untuk bangunan itu tidak banyak.

Belum lagi seperti yang di atas, maraknya korupsi di negeri ini (terutama di bidang infrastruktur negara) membuat pembangunan infrastruktur tidak berjalan lancar bahkan terhenti seperti proyek Hambalang. Sehingga bangunan yang telah jadi tidak menjadi kokoh akibat material yang dibutuhkan bergeser menjadi kepimilikan sendiri. Mungkin ini terjadi akibat tidak menerapkan disiplin ilmu (dibahas pada tulisan sebelumnya).

Perihal ketahanan bangunan, kontraktor yang bekerja maupun perencana bisa melihat kembali kepada peninggalan Belanda yang banyaknya menggunakan adukan pasir dan kapur. Tidak dapat dipungkiri soal ketahanan bangunan, negeri ini sangat tertinggal jauh. Abaikan sebentar data-data mengenai pencapaian pembangunan infrastruktur yang begitu wah. Kalaupun ketahanan tidak diperhatikan dan korupsi masih menjadi idaman untuk menyuap material bangunan, dalam kurun waktu singkat anak cucu negeri tidak dapat menikmati hal tersebut.

Sebagai negara yang memiliki wilayah air yang banyak, sudah sebaiknya belajar kepada negeri kincir air yang berada di bawah permukaan tanah, namun tidak terjadi pasang air laut masuk ke dalam kota. Berusaha memahmi sifat-sifat alam tanpa abai dengan kebijakan dari Sang Maha Kuasa.


Catatan: tulisan ini tidak ada kaitannya dengan kinerja dari capres saat ini. Toh, ide tulisan ini sudah dipikirkan sebelum alam politik negeri ini kian meruncing setiap harinya. 

Saturday, 23 March 2019

PERANAN DISIPLIN ILMU DALAM DUNIA TEKNIK SIPIL

Semua ilmu perlu adanya perlakuan pendisiplinan, termasuk ilmu teknik sipil. 


Ilmu berarti tahu atau mengetahui. Untuk ilmu itu sendiri adalah pengetahuan tentang sebuah bidang, lalu disusun dengan bersistem menurut tata cara tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu guna kebutuhan orang banyak. Dari pengertian tersebut, bahwa ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus, yakni tersusun secara sistematis.

Dalam harfiahnya, teknik sipil adalah salah satu cabang ilmu teknik yang mempelajari mengenai merancang, membangun, merenovasi. Tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup seluruh lingkungan kehidupan untuk kemaslahatan hidup manusia.

Teknik sipil memiliki ruang lingkup yang luas, di dalamnya terdapat berbagai pengetahuan seperti matematika, fisika, geologi, kimia, biologi, lingkungan hingga komputer mempunyai peranan masing-masing. Teknik sipil dikembangkan berdasarkan tingkat kebutuhan manusia dan pergerakannya, bisa dikatakan jika ilmu ini bisa mengubah sebuah hutan menjadi kota besar.

Ilmu teknik sipil adalah pengetahuan teknik yang mempelajari ilmu bangunan dengan di dalamnya terdapat pengetahuan matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan hingga komputer.

Dalam peranan prinsip dispilin ilmu, di bidang teknik sipil sangatlah penting. Prinsp-prinsip disiplin ilmu mencakup kepada sikap yang jujur, bertanggung jawab, dapat dipercaya serta disiplin itu sendiri. Dalam hal ini guna mendisiplinkan sebuah ilmu agar apa yang diketahui lebih sistematis. Dalam ilmu teknik sipil bukan hanya fokus kepada ilmu semata, melainkan diiringi dengan hal-hal yang disebutkan tadi.

Tanpa adanya prinsip disiplin ilmu itu sendiri, seorang yang berkecimpung di dunia teknik sipil akan mengalami kesulitan. Banyaknya konsumen yang menuntut karena tidak sesuai dengan permintaan. Sehingga menyebabkan usaha yang dijalaninya terpuruk.

Berdasarkan fakta di lapangan, seorang konsumen sangat berhati-hati dalam memilih tempat untuk bekerja sama dalam hal bangun membangun. Sikap dan perilaku dalam disiplin ilmu sangat diperhatikan. Konsumen akan lebih senang bekerja sama dengan orang-orang yang jujur. Segala sesuatunya sesuai dengan apa yang dirancang. Terlebih perihal anggaran yang bisa dibilang cukup banyak.

Namun hal di atas berbanding terbalik atas kejadian yang terjadi. Meskipun hanya segelintir orang dalam bidang teknik sipil yang mengambil keuntungan sendiri atas proyeknya, hal demikian berdampak kepada sesama orang-orang yang berkecimpung di teknik sipil. Konsumen akan berpikir dua kali jika ingin menggunakan jasa dari orang-orang teknik sipil. Pada akhirnya, konsumen lebih memilih menggunakan jasa tukang bangunan serabutan yang hasilnya tidak kalah dengan lulusan teknik sipil itu sendiri. Baik dari segi struktur, rancangan, hingga perihal anggaran yang bisa ditekan.

Prinsip disiplin ilmu ini tidak hanya diterapkan dalam teknik sipil, melainkan bisa diaplikasikan ke hal lain. Misalnya dalam mendisiplinkan ilmu-ilmu pengetahuan selama ini. Baik bersumber dari sekolah atau pun pengalaman.

Karena kedua hal itu menimbulkan sebab akibat. Sebuah ilmu tanpa adanya prinsip-prinsip disiplin, ilmu itu sendiri akan tidak sistematis. Terjadi ketimpangan akan ilmu itu sehingga tidak mencapai tujuan ilmu dengan maksimal.

Selain itu juga, disiplin ilmu bermanfaat untuk menyelaraskan yang mana informasi benar dan salah. Meskipun terlihat sepele, kebanyakan berita-berita bohong dapat tersebar dengan cepat karena ilmu tadi tidak didisiplinkan. Mengambil keputusan berdasarkan fakta yang tidak memadai. Entah itu benar kenyataannya atau bukan.

Ilmu teknik sipil sangatlah penting guna kepentingan di masa yang akan datang, namun tanpa adanya dukungan dari disiplin ilmu, ilmu teknik sipil tidak akan dapat diaplikasikan secara masksimal dan sistematis.

Monday, 4 February 2019

SEBERAPA BESAR PERANAN MAHASISWA TEKNIK SIPIL DALAM PEMBANGUNAN NEGARA?

Tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa ini adalah kemampuan daya saing sumber daya manusia dalam memasuki revolusi industri. Era dimana dunia industri teknologi otomatisasi dengan basis cyber mulai berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas manusia, mesin yang semakin konvergen. Untuk itu sektor industri nasional perlu dibenahi terutama dalam penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan langkah konkret yang mesti dilaksanakan dalam mengikuti perkembangan teknologi dan informasi.

Pemerintah Republik Indonesia dibawah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas. Karena hal itu merupakan pondasi dasar dalam pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, Bandar udara, pelabuhan, akan meningkatkan konektivitas dan mampu menurunkan biaya logistic sehingga produksi unggulan local mampu bersaing dengan produk impor. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut tidaklah mudah dilaksanakan, banyak tantangan yang mesti dihadapi, beberapa diantaranya adalah disparitas antar wilayah, kesenjanagan pembangunan yang terjadi. Ini disebabkan oleh banyak hal, namun dengan kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pembangunan di kawasan terluar dan pinggiran menyebabkan daerah tersebut dapat mengejar ketertinggalan.

Infrastruktur di negara Indonesia saat ini memang belum sebanding dengan negara negara lain, dan jauh tertinggal karena kurangnya tenaga pembangunan yang baik. Selain itu pembangunan di Indonesia sangat kurang karena kurangnya anggaran biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. Untuk itu maka anggaran biaya pembangunan infrastruktur di indonesia harus di tambah agar Negara Indonesia mampu bersaing dengan negara negara lain dalam bidang infrastruktur. Maka dari itu Pemerintah harus memperbaiki infrastruktur di Indonesia agar lebih mudah dalam melakukan hal hal. Misal bisnis, perdagangan, dan ekspor impor.

Mahasiswa, secara sempit diartikan sebagai tingkatan pelajar yang tertinggi, secara luas dapat diartikan sebagai, tingkatan pelajar tertinggi yang sejatinya sudah sangat kritis dan cerdas yang dapat berpengaruh secara langsung ke kehidupan bangsa dan negara sebagai alat kontrol dalam pemerintahan.

Peran mahasiswa teknik sipil di dalam menjaga kedaulatan bangsa Indonesia cukup penting, khususnya dalam bidang teknologi dan pembangunan. Di bidang teknologi, peran mahasiswa penting untuk mendukung pembangunan infrastuktur nasional, misalnya dalam pembangunan jembatan. Seorang mahasiswa, khususnya yang berkecimpung dibidang teknik sipil seharusnya memiliki pengetahuan yang menyeluruh, dan tidak hanya memiliki kecerdasan yang baik, tetapi juga harus memiliki keahlian dan wawasan yang luas. Sehingga dalam penerapan di kehidupan nyata, mereka dapat menjadi ujung tombak dalam pembangunan infrastuktur di Indonesia.

Kualitas para mahasiswa tentu tidak lepas dari peran perguruan tinggi itu sendiri. Di negara berkembang seperti Indonesia, peran perguruan tinggi sangatlah sentral. Perguruan tinggi merupakan tempat penyiapan sumber daya manusia untuk mendukung pembangunan nasional, baik dari tenaga yang terampil, para pemikir, maupun para ilmuwan peneliti yang handal. Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan penyumbang ilmu dan teknologi bagi masyarakat. Indonesia memerlukan suatu perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global, dan itu merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan untuk memperbaiki kualitas para sarjana di tanah air. Idealnya suatu perguruan tinggi harus dapat menyiapkan lingkungan belajar yang kondusif untuk terbentuknya kompetensi tersebut. Sehingga, pada akhirnya peran dan fungsi mahasiswa dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara dapat teraplikasikan dengan optimal.

Secara umum, peran mahasiswa dalam bidang pembangunan infrastruktur tidaklah selalu mengacu pada hal-hal makro. Para mahasiswa baru bisa berkontribusi secara makro apabila sudah “matang” dan memiliki konsep dalam lingkup regional atau nasional. Marilah kita berkontribusi dari hal-hal mikro di sekitar. Secara faktual, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide dari berbagai permasalahan mikro di sekitar. Kemudian ide tersebut diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Menjadi agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas. Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.

Kendati demikian, semua itu harus didasari pada mahasiswa itu sendiri. Meskipun sudah ada fasilitas seperti kampus dan ada langsung dukungan pihak fakultas dan universitas, tanpa adanya mahasiswa sebagai penggerak, hal itu sama saja dengan sia-sia. Karena, di tangan mahasiswalah bagaimana ke depannya jalan negara ini.



Sumber:

Anonim
Dr. Ir. Sumadilaga, Danis Hidayat. “Membangun Profesionalisme Insinyur untuk Kemajuan Bangsa”. Padang Ekspres. 6 Desember 2018, hal. 28.
http://atieksipilnarotama.blogspot.com/2016/11/peran-teknik-sipil-dalam-pembangunan.html?m=1 diakses pada tanggal (9 Januari)
https://www.google.com/amp/s/aqranthome.wordpress.com/2012/08/25/peran-mahasiswa-dalam-pembangunan-nasional/amp/ diakses pada tanggal (9 Januari)