KETIKA BANGUNAN PENJAJAHAN LEBIH AWET DIBANDINGKAN BANGUNAN MILENIAL

Faktor ketahanan suatu bangunan gedung sangat berpengaruh untuk kemaslahatan manusia ke depannya.


Sebagai negara berkembang, Indonesia sangatlah gencar untuk melaksanakan pembangunan guna menuju era kemajuan seperti negara tetangga. Dalam beberapa aspek, hal ini sangat dikhususkan seperti sarana jalan. Berdasarkan portal berita online Detik.com, tercatat selama kurun waktu 2014-2018 terjadi pembangunan jalan sepanjang 3432 km jalan nasional dan 941 km kalan tol.

Kendati angka-angka tersebut sangatlah berkembang jauh dari era pemerintahan sebelumnya, apakah jalan-jalan itu dapat tahan lama layaknya bangunan museum Fatihillah di Kota Tua?

Seperti yang diketahui bersama, proyek pembangunan jalan (apalagi mempunyai rentang yang panjang dan medan cukup sulit) bukanlah pekerjaan yang dapat dihabiskan dalam waktu singkat. Survey lokas, pembebasan lahan, perenacanaan, lama pengerjaan, dan sebagainya. Kesemua itu bukanlah perkara seperti berbicara.

Bahkan saat berada di lapangan, terkadang hal-hal di atas sangat berbeda dengan aslinya. Belum lagi akhir-akhir ini marak kasus korupsi akibat penyelewangan dana untuk pembangunan infrastruktur negara. Sehingga bahan-bahan yang digunakan dalam perenacanaan tidak terlaksana dengan baik. Akibatnya, bangunan tersebut kekurangan daya tahannya. Jika terjadi bencana alam hanya menghitung waktu bangunan itu hancur.

Lantas siapa yang mesti disalahkan? Tukang? Arsitek? Lokasi? Atau Tuhan yang telah mengirimkan bencana alam?

Ok, kembali kepada judul.

Sebagaimana yang telah diketahui, negeri kincir angin menjajah Indonesia sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Selama lebih kurang 350 tahun, Belanda tidak hanya menjarah hasil bumi, namun ada beberapa meninggalkan bangunannya (meskipun lebih banyak duka).

Jika diperhatikan, bangunan peninggalan di masa penjajahan bisa dibilang memiliki kekuatan yang bagus. Selain daripada itu, desain-desainnya begitu memukau. Bahkan menjadi trend untuk bangunan setelah zaman penjajahan. Sebut saja Jam Gadang, Museum Fatihillah, Lewang Sewu, dan lain-lain.

Bangunan zaman penjajahan juga mempunyai aturan tersendiri (layaknya SNI), sehingga dalam pelaksanaannya terwujud sesuai dengan harapan. Mengutamakan kekuatan daripada keindahan bangunan itu sendiri.

Banyaknya angka infrastruktur hancur akibat bencana alam sangatlah memprihatinkan. Pasalnya, umur bangunan itu belumlah mencapai angka 20 tahun.

Selain dalam hal desain, faktor ketahanan bangunan sangatlah berbeda. Sayangnya, beberapa tahun belakangan keindahan suatu bangunan sangat diperhatikan, bahkan diistimewakan. Akibatnya, struktur menjadi abai. Hal itulah yang membuat bangunan menjadi tidak kuat. Lantas pembengkakan utang negara untuk pembangunan kian besar.

Menilik dari Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap ketentuan bahan-bahan bangunan, jika dijalankan dengan baik, infrastruktur yang dibangun akan terjamin kualitasnya. Tak asing lagi jika kebanyakan pekerja berusaha menggunakan material semurah mungkin, sehingga pengeluaran untuk bangunan itu tidak banyak.

Belum lagi seperti yang di atas, maraknya korupsi di negeri ini (terutama di bidang infrastruktur negara) membuat pembangunan infrastruktur tidak berjalan lancar bahkan terhenti seperti proyek Hambalang. Sehingga bangunan yang telah jadi tidak menjadi kokoh akibat material yang dibutuhkan bergeser menjadi kepimilikan sendiri. Mungkin ini terjadi akibat tidak menerapkan disiplin ilmu (dibahas pada tulisan sebelumnya).

Perihal ketahanan bangunan, kontraktor yang bekerja maupun perencana bisa melihat kembali kepada peninggalan Belanda yang banyaknya menggunakan adukan pasir dan kapur. Tidak dapat dipungkiri soal ketahanan bangunan, negeri ini sangat tertinggal jauh. Abaikan sebentar data-data mengenai pencapaian pembangunan infrastruktur yang begitu wah. Kalaupun ketahanan tidak diperhatikan dan korupsi masih menjadi idaman untuk menyuap material bangunan, dalam kurun waktu singkat anak cucu negeri tidak dapat menikmati hal tersebut.

Sebagai negara yang memiliki wilayah air yang banyak, sudah sebaiknya belajar kepada negeri kincir air yang berada di bawah permukaan tanah, namun tidak terjadi pasang air laut masuk ke dalam kota. Berusaha memahmi sifat-sifat alam tanpa abai dengan kebijakan dari Sang Maha Kuasa.


Catatan: tulisan ini tidak ada kaitannya dengan kinerja dari capres saat ini. Toh, ide tulisan ini sudah dipikirkan sebelum alam politik negeri ini kian meruncing setiap harinya. 

Postingan terkait:

3 Tanggapan untuk "KETIKA BANGUNAN PENJAJAHAN LEBIH AWET DIBANDINGKAN BANGUNAN MILENIAL"

  1. Replies
    1. Makasih buat apa? Nggak ada manpaatnya juga.
      Umat manusia sekarang butuh operator paru dengan jaringan tercepat dan menjangkau seluruh indonesia.

      Delete
  2. Telkomsel kok lelet ya min?

    ReplyDelete